Selasa, 23 Oktober 2012

Sejarah RRI Sumenep


Pingin tahu sejarah perjalanan RRI Sumenep ?

Inilah kisahnya..... 


  
LATAR BELAKANG PENDIRIAN RRI

Pada tahun 50-an, tepatnya Juli 1954, terbaca sebuah berita pendek dalam rublik harian Surabaya Post, bertajuk “STUDIO RRI untuk Sumenep” awal perjuangan berdiri stasiun RRI di Sumenep hanya berupa tulisan 33 baris dalam 2 kolom, menyebutkan tentang terbentuknya “resolusi” DPRDS Kabupaten Sumenep dalam sidangnya 1 Juli 1954. Sebuah resolusi yang mendesak pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Penerangan dan Radio Pusat Studio RRI, agar di Sumenep diberikan satu studio penyiaran RRI.
Memang, pada dekade 50-an itu, para tokoh masyarakat Madura merasa ada sesuatu yang kurang dalam merajut cepatnya derap perjuangan. Sesuatu itu adalah alat yang dapat memperlancar penyaluran aspirasi masyarakat Madura, yang dapat menampilkan sosok Madura yang utuh, dapat menampilkan seni dan budaya, sehingga saudara – saudaranya dibelah lain bumi Nusantara “lebih mengenal” karakteristik masyarakat Madura yang penuh dinamiki dan mengesankan. Alat yang dimaksud adalah sebuah stasiun penyiaran Radio Republik Indonesia. Jadi, paling tidak ada dua hal penting yang menjadi latar belakang keinginan mendirikan stasiun penyiaran RRI di Madura, yaitu :
1.       Keinginan untuk memperkenalkan masyarakat Madura dengan segala ciri dan 
          karakter yang sebenarnya.
2.       Keinginan untuk mengekpose potensi Madura, berupa seni dan budaya daerah yang 
          beraneka ragam, potensi ekonomi, pariwisata, dll.

Karakteristik Masyarakat Madura
Wilayah bekas karesidenan dengan Madura secara administratif termasuk daerah propinsi Jawa Timur. Pulau Madura hanya dipisahkan oleh sebuah selat, yang dapat diseberangi kapal Fery selama 20 menit dari ibukota Propinsi Jawa Timur, Surabaya. Tetapi kemudian pada tahun terbentang  jembatan terpanjang di tanah air, di atas selat Madura yang dinamai Jembatan Surabaya Madura (Suramadu). Luas wilayah kedaratan kepulauan yang dikenal dengan sebutan pulau garam ini sekitar 5.168 km2, atau kurang lebih 10 persen dari luas daratan Jawa Timur. Adapun panjang daratan kepulauannya dari ujung barat di Kamal sampai dengan ujung Timur di Kalianget sekitar 180 km dan lebarnya berkisar 40 km. pulau ini terbagi dalam empat wilayah kabupaten, masing-masing Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Dengan Luas wilayah untuk Kabupaten Bangkalan 1.144, 75 km2 terbagi dalam delapan wilayah kecamatan, Kabupaten Sampang berluas wilayah 1.321,86 km2, terbagi dalam 12 kecamatan, Kabupaten Pamekasan memiliki luas wilayah 844,19 km2, yang terbagi dalam 13 kecamatan, dan Kabupaten Sumenep mempunyai luas wilayah 1.857,530 km2, terbagi dalam 27 kecamatan yang tersebar di wilayah daratan dan kepulauan. Penduduk Madura dengan bahasa pengantar pergaulan hidup sehari-harinya “Bahasa Madura” itu, 82,6 persen bersumber kehidupan pada pertanian, 7,4 % perikanan, 10% berdagang dan memenuhi usaha industri kecil. Kendati banyak orang mengatakan Madura pulau gersang dan panas, ternyata di awal abad ke-19 pemerintah Hindia Belanda mengakui, bahwa Madura adalah subur makmur. Hal ini terbaca pada : Pamungpraja dan sewindu pembangunan desa 1950 – 1958 di Madura. Dalam buku tersebut Resident Madura, R. Sunarto Hadiwijoyo, menulis bahwa Gubernur Jenderal Belanda, Maetsingker pernah melaporkan pada Dewan Tujuh Belas di Negeri Belanda (Nederland), tentang betapa subur dan makmurnya pulau Madura. Sejarah selanjutnya, di awal 1900 Pemerintah Hindia Belanda melakukan perubahan yang amat drastis terhadap pulau ini. Madura yang tadinya ditumbui hutan-hutan lebat dan tak kekurangan sumber air diubah menjadi pulau gersang yang kemudian diwarisi masyarakat Madura saat ini. Hutan-hutan jati yang terbentang dari Bangkalan ke Sumenep ditebas habis, akibatnya terjadi erosi besar-besaran dan Pulau Madura menjadi gundul dan gersang. Hal ini tentu saja mendatangkan kemiskinan pada masyarakat Madura, menjadikan rakyat Madura gelisah. Untuk mempertahankan hidupnya, mereka hijrah bertebaran di daerah lain dipesisir utara Jawa Timur, sehingga tidak heran jika di daerah bekas karesidenan Besuki (Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Probolinggi), sekarang ditemukan pemukiman keturunan Madura. Di sisi lain, sebagai pekerja yang ulet dan pelaut yang bahariwan, rakyat Madura tetap berpegang pada falsafat kehidupan laut “abantal omba’ asapo’ angen” (berbantal ombak berselimut angin).
Sejak awal Pemerintah Republik Indonesia sanpai ini mulailah diusahakan pengembalian kesuburan tanah Madura dan kemakmuran rakyat dan lahan kritis. Kiranya hal semacam itulah yang ingin disampaikan oleh parah Tokoh Masyarakat Madura kepada saudara-saudaranya di belahan lain wilayah tanah air. Tentunya melalui cara yang mudah dan murah, yaitu siaran Radio Republik Indonesia. Oleh karena itulah maka diperjuangkan berdirinya stasiun RRI di Madura.

Menggali potensi Madura
Kekayaan pulau Madura tidak hanya dibidang pertanian, akan tetapi termasuk seni dan budaya yang melatar belakangi kehidupan masyarakat Madura dan kepulauannya, termasuk wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep. Potensi yang cukup besar masih banyak mengendap di wilayah-wilayah “terpencil”, baik di daratan maupun di kepulauan. Gerakan penghijauan Madura bertujuan untuk mengangkat potensi di bidang pertanian. Untuk mengembankan sektor produksi hasil tanaman penduduk diadakan pameran hasil penghijauan dan produksi tanaman lainnya pada saat-saat pesta rakyat “Kerapan Sapi”. Selain Madura dikenal sebagai daerah penghasil buah-buahan, di sini juga tersimpan banyak ragam kesenian, seperti Gamelan, Topeng, Macopat, Ludruk, Karapan Sapi, dan lain sebagainya. Semuanya ini merupakan kekayaan seni budaya yang mejadi salah satu jenis komuditas pariwisata.
Disadari, bagaimanapun kekayaan alam dan potensi seni budaya Madura, tanpa didukung oleh sarana yang tepat diduga akan mengalami hambatan dan tantangan dalam hal pengembangannya, sehingga terpikirlah pendirian stasiun penyiaran RRI, yang diharapkan  menjadi pendorong usaha penggalian potensi Madura, baik pertanian, budaya dan pariwisata. Di samping itu RRI akan menyebarluaskan hasil-hasil pembangunan Madura ke seluruh tanah air, yang diharapkan akan menumbuhkan keinginan orang-orang Madura di peratauan untuk pulang dan bersama untuk membangun daerah asalnya. Itulah idaman masyarakat Madura terutama para tokoh yang tergabung dalam Delegasi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS), memperjuangkan berdirinya stasiun RRI di Madura.

Mendirikan RRI
Betapa inginnya para tokoh masyarakat Madura memperkenalkan Madura seutuhnya ke seluruh pelosok tanah air tergambar pada kesungguhan mereka memperjuangkan berdirinya stasiun RRI. Selaras dengan latar belakang situasi masyarakat di pulau Madura, maka tujuan mendirikan stasiun penyiaran RRI sudah tersurat dalam bagian tulisan terdahulu, yaitu :
Pertama          : Agar profil masyarakat Madura yang sebenarnya dapat diinformasikan 
                        kepada seluruh Bangsa Indonesia.
Kedua             : Agar kegiatan masyarakat Madura dapat disebarluaskan ke seluruh tanah 
                        air.
Ketiga             : Agar masyarakat Madura dapat menerima informasi tentang kegiatan-
                         kegiatan daerah lain di tanah air.
Keempat        : Agar potensi seni budaya tradisional Madura dapat ditampilkan melalui 
                       siaran-siaran RRI.
Kesimpulannya, masyarakat Madura menginginkan berdirinya stasiun RRI sebagai alat komunikasi yang ampuh, dapat menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Madura.

Kebutuhan akan Media Komunikasi
Menoleh ke belakang di tahun 50an, Madura memang belum banyak terjangkau alat-alat komunikasi massa. Tercatat pada dekade itu, beberapa penerbitan yang masuk ke Madura, antara lain Surabaya Post, Terompet Masyarakat, Harian Umum, Suara Rakyat, Bulletin Pajjar (berbahasa Madura), dan Bulletin “Moncar” yang merupakan penertiban kantor Departemen Penerangan.
Kalau kita tilik dari jumlah penerbitan yang bias dinikmati oleh masyarakat Madura, tentu tidak seberapa dibandingkan dengan frekuensi penyaluran media cetak saat ini, lebih-lebih kalau kita kaitkan dengan keterbatasan kemampuan masyarakat waktu itu. Masyarakat di awal kemerdekaan sebagian besar “buta huruf” dan minim pengetahuan. Itulah sebabnya, para tokoh masyarakat Madura memperjuangkan berdirinya stasiun RRI sebagai sarana yang tepat dan efektif dalam mengkomunikasikan pesan-pesan. Diyakini, bahwa penyiaran radio murah dan mudah dijangkau oleh kemampuan masyarakat, karena pendengarnya tidak dituntut “pandai membaca dan menulis”.

Khasanah Budaya Madura
Dimaklumi bersama, kekayaan budaya Pulau Garam Madura adalah beragam corak dan ragamya. Salah satu yang sangat popular adalah Kerapan Sapi yang menjadi salah satu jenis obyek wisata khas Madura. Setiap tahun Karapan Sapi yang menjadi salah satu jenis obyek wisata khas Madura. Setiap tahun kerapan sapi diselenggarakan berjenjang dari tingkat Kecamatan, Kabupaten, dan tingkat pembantu wilayah Madura. Sebagai upaya memperebutkan piala bergilir Presiden RI.
Menelusuri keberadaan seni budaya Madura, maka diakui bahwasannya Kabupaten Sumenep merupakan “central of culture” atau pusat kebudayaan Madura. Di sini dapat ditemui peninggalan Keraton Sumenep, makam para raja dan keturunannya serta Museum Keraton yang merupakan bagian terpenting dari sejarah Madura.
Agaknya tidak  berlebihan, apabila mengungkap Khasanah Budaya Madura kita menceritakan budaya Kabupaten Sumenep “mewakili” keberadaan seni budaya daerah Madura pada umumnya, sehingga nanti akan terbukti, bahwa pemilihan kota Sumenep sebagai lokasi pendirian stasiun RRI di Madura, banyak dipengaruhi oleh situasi ini. Untuk mempelajari seni budaya tentu kita harus mengetahui sejarah pemerintahan yang erat hubungannya dengan perkembangan dan pembinaan seni budaya tersebut.
Sejarah mencatat Aria Wiraraja sebagai Adipati Pertama di Madura, diangkat oleh Raja Kertanegara dari Singosari, 31 Oktober 1269. Pemerintahannya berpusat di Batuputih Sumenep, merupakan keraton pertama di Madura. Pengangkatan Aria Wiraraja sebagai Adipati I Madura pada waktu itu, diduga berlangsung dengan upacara kebesaran kerajaan Singosari yang dibawa ke Madura. Di Batuputih yang kini menjadi sebuah Kecamatan kurang lebih 18 Km dari Kota Sumenep, terdapat peninggalan-peninggalan keraton Batuputih, antara lain berupa tarian rakyat, tari Gambuh dan tari Satria. Tarian rakyat yang digelar untuk menyambut bertahtanya Aria Wiraraja dengan iringan lengkap Keraton Singosari. Tari Gambuh yang semula hanya ditarikan di lingkup Keraton kemudian menjadi tarian rakyat.
Pada tahun 1319 ketika pemerintahan berpusat di Aeng Anyar, Tanjung (Kecamatan Bluto), di bawah pemerintahan Pangeran Jokarsari pengaruh Islam mulai masuk. Maka kesenian yang berkembang di daerah tersebut adalah Gambus, Samroh, Pencak, di samping masih bertahannya Saronen, Karawitan, Ludruk, Topeng, Macopat, dan sebagainya. Pangeran Jokarsari dilanjutnya oleh putranya, R. Piturut, dan pemerintahannya berpindah ke Keles (Kecamatan Ambunten). Di sinilah berkembang kesenian Sandur yang masih terus hidup sampai sekarang. Begitu sampai pemerintahan raja-raja terakhir di Madura, sekitar tahun 1926, ketika memerintah Tumenggung Ario Prabuwinoto, jenis kesenian yang tumbuh dan berkembang adalah Kerawitan, Ludruk, Topeng, Macopat, Hadrah, Samroh, Sandur termasuk beberapa jenis tarian serta Karapan Sapi yang bertahan lestari hingga sekarang.
Potensi itulah yang kelak kemudian digali dan menjadi sumber mata acara siaran RRI, sebagai penggelora semangat membangun masyarakat Madura.

PROSES MEWUJUDKAN KEINGINAN 
Menelusuri proses terwujudnya keinginan mendirikan RRI stasiun lokal di Madura, erat kaitannya dengan kegigihan masyarakat Madura, khususnya masyarakat Kabupaten Sumenep. Melalui lembaga perwakilan DPRDS mulailah rangkaian proses mewujudkan keinginan tersebut.

Upaya wakil rakyat
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau hanya “map kumal” yang mungkin hanya dimiliki seseorang arsiparis yang wartawan (pada jamannya), menjadi saksi sejarah amat penting bagi perjuangan rakyat Kabupaten Sumenep mendirikan stasiun penyiaran RRI. R. Sujuti Atm, adalah pemilik “map kumal” yang isinya guntingan kecil potongan surat kabar Surabaya Post bertajuk “STUDIO RRI untuk Sumenep”. Surabaya Post bertanggal penerbitan 7 Juli 1954 itu mengungkap kejadian bersejarah, ketika sidang DPRDS Kabupaten Sumenep 1 Juli 1954 melahirkan sebuah “resolusi”, mendesak pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Penerangan dan Radio Pusat Studio RRI agar menyetujui berdirinya studio lokal RRI Madura di Sumenep.
Upaya awal wakil rakyat itu kemudian menyusul ditetapkannya “delegasi” menghadap Menteri Penerangan di Jakarta. Delegasi tersebut berdiri dari RH. Sastronegoro (almarhum) selaku ketua delegasi, R. Sujuti sebagai anggota, dan Singoneng Ayudo (almarhum) selaku wakil eksekutif. Mereka bertiga di Jakarta disambut Sekretaris Jenderal Penerangan serta Wakil dari Direktorat Jenderal RRI, Drs. Sumadi.
Angin segar serasa berhembus, ketika sambutan hangat itu menelurkan kesepakatan pemerintah pusat untuk melakukan serangkaian kegiatan peninjauan ke Sumenep, yang pada puncaknya berupa kesempatan Panitia Pendirian RRI beraudiensi dengan Menteri Penerangan RI, 22 Mei 1956 ketika kunjungan Menteri Penerangan Sudibjo ke Madura. Panitia Pendirian RRI yang diberi kesempatan beraudiensi dengan Menteri Penerangan terdiri dari :
1.       RP. Abdurrahman, Ketua DPRDS bertindak selaku Ketua.
2.       R. Sami’oedin, Wk. Sekr. DPRDS selaku anggota.
3.       Abd. Karim Dipasastro, Patih selaku anggota.
4.       Asmawi, Wk. Kepala Jawatan Penerangan, selaku anggota.
5.       RB. Abd Gaffar, anggota DPRDS selaku anggota.
6.       Moh. Rais, Ketua Organisasi Sinar Sumekar, anggota.
7.       RA. Sujingrat, perwakilan Jawatan Kebudayaan untuk Kabupaten Sumenep sebagai angota.
Audiensi berlangsung di kantor Karisidenan Madura Pamekasan, sebagai bentuk “meminta ketegasan” Menteri Penerangan terhadap perjuangan Delegasi DPRDS Kabupaten Sumenep untuk  mendirikan Studio lokal RRI di Sumenep. Menarik kita simak, karena dalam forum ini sempat dipertimbangkan lokasi lain untuk mendirikan studio lokal RRI di Madura.

Menentukan Lokasi
Tampaknya “babak akhir” perolehan kesepakatan berdirinya stasuin lokal RRI di Sumenep tercatat sebagai hasil perjuangan para anggota panitia pendirian RRI Sumenep. Ketika tercetus pemikiran, bahwa Pamekasan sebagai kota Karesidenan Madura layak untuk ditempati studio lokal RRI, maka kembali panitia mengemukakan alasan-alasan yang kuat, mengapa RRI lokal Madura sebaiknya ditempatkan di Sumenep. Atas pertimbangan yang diajukan Panitia tersebut, akhirnya audiensi singkat ini memperoleh ketetapan Menteri Penerangan, yang menyetujui ditempatkannya studio lokal RRI Madura di Sumenep. Selanjutnya, menyangkut pelaksanaan, dikuasakan kepada Direktur Jenderal RRI dan Kepala Jawatan Penerangan Jawa Timur.
Agaknya, pertemuan singkat Menteri Penerangan dengan Panitia pendirian RRI di Pamekasan itu semakin mendekati titik awal terwujudnya keinginan, lebih-lebih setelah Direktur Jenderal RRI, R. Maladi menyepakati penyediaan seperangkat peralatan studio, pemancar, dan pegawainya, sementara kebutuhan lainnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah untuk mengusahakannya.

PERSIAPAN MENDIRIKAN RRI SUMENEP
Setelah tercapai kesepakatan antara Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Penerangan RI dengan Panitia Pendirian RRI untuk penempatan studio lokal RRI Madura di Sumenep, maka Panitia mulai melakukan upaya menyiapkan segala perangkatnya, meliputi perangkat keras dan perangkat lunak penyiaran.
a. Pengadaan Gedung dan Studio
Sebagaimana terungkap di atas, telah  menjadi kesepakatan bahwa penyediaan sarana dan prasarana penyiaran RRI studio lokal Sumenep, Pemerintah Daerah Tingkat II Sumenep mempersiapkan Gedung Penyiaran dan Perkantoran, terletak di jalan Urip Sumoharjo. Unik dan menarik menelusuri kisah sejarah gedung dan studio penyiaran ini. Bangunan kokoh dan anggun yang hingga kini menjadi lokasi representatif penyiaran RRI Sumenep, bermula dibangun tahun 1864 sebagai Gedung Asisten Residen, yang ketika itu dijabat oleh seorang penguasa Kolonial Belanda bernama “ Peter “. Lama kelamaan orang tidak lagi menyebut dengan nama kantor Asisten Residen, tapi menyebuatkan dengan sebutan “ Kapetoran “, menyesuaikan dengan nama sang Asisten tadi. Menjelang Indonesia merdeka, gedung ini kembali menorehkan kesejahannya sebagai Sekretariat Komite Nasional Indonesia KNI, dan pada masa Agresi II Belanda tahun 1947, bangunan ini menjadi markas dan asrama Biro Perjuangan. Terakhir, di awal kemerdekaan gedung yang kokoh dan monumental tersebut menjadi saksi rekruitmen tenaga pendidik. Di sini bermukim pelajar putri Sekolah Guru Bawah, sehingga dikenal orang sebagai Asrama Putri SGB, hingga tahun l956, ketika sebagian gedung ditempati studio dan perkantoran RRI Sumenep.

b. Peralatan Studio, Pemancar dan Antene
Segalanya serba sederhana, ibarat bayi yang baru dilahirkan ibu pertiwi, peralatan studio, pemancar, dan antene rasanya hanya dapat meneriakkan suara yang amat terbatas untuk didengar. Selanjutnya yang mengesankan, berdirinya RRI Sumenep sebagai buah keinginan bersama Pemerintah dan masyarakatnya, tercermin dalam pengadaan antene pemancar dan peralatan studio. Bayangkan, peralatan studio yang tersedia adalah concsule bermerk Gates buatan l940 dan pemancar RCA berkekuatan 250 Watt, adalah bantuan RRI Studio Jatim ( sekarang : RRI Surabaya ) Peralatan studio dan pemancar ini telah menjalani tugas operasional perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sedangkan “ Antene Pemancar “ diperoleh atas bantuan dari Pimpinan PPLK ( Sekarang : PT. Garam ) Sutonegoro. Peralatan studio dan antene pemancar dimaksud, kesemuanya kini masih terawat baik, dalam kapasitasnya sebagai benda peninggalan bersejarah “ Pengaruh awal bahtera penyiaran RRI Sumenep “.

Perangkat Lunak

a. Organisasi RRI Sumenep
Harus diakui, bahwa Organisasi Studio RRI Sumenep layaknya studio RRI lainnya, ketika itu belum tersusun rapi sebagaimana organisasi Lembaga Pemerintahan yang telah mempunyai kejelasan fungsi, tugas dan kewenangan masing-masing karyawan. Kendati demikian pengendalian yang ketat dalam Ikatan Jaringan Kerja ( Network ) tetap diterapkan Pemerintah Pusat dalam hal ini Direktorat Jenderal RRI, Departemen Penerangan. Sehingga yang bisa kita temui sekarang dalam jalinan kerja sama organisasi sebuah studio RRI, adalah Penanggung Jadwab, dengan sebutan :
- Kepala Studio ( Kepstu ) :  adalah Penanggung Jawab keseluruhan jalannya roda organisasi penyiaran RRI
- Kepala Bagian Umum : adalan Penanggung Jawab segala kegiatan Ketata Usahaan.
- Kepala Bagian Siaran : adalah Penanggung Jawab  di bidang pengelolaan siaran dan berita.
- Kepala Bagian Teknik : adalah Penanggung Jadwab Operasional Peralatan teknik

b.   Pejabat Pelaksana
Di awal mengudaranya siaran RRI Sumenep, disebut oleh seorang nara sumber, bahwa jumlah karyawan waktu itu adalah 17 orang menekuni tugas – tugas penyiaran. Supeno, mantan Kepala Pekabaran RRI Surabaya, menjabat sebagai Kepala Studio, sedangkan Yoso Prawiro selaku Kepala Bagian Umum, Hariyanto Kepala Bagian Siaran, dan Kepala Bagian Teknik dijabat oleh Abd. Rajak. Membaca kisah awal berdirinya Lembaga Penyiaran RRI Sumenep, mungkin di antara kita bertanya, siapakah gerangan orang- orang pertama yang mengudarakan siaran RRI Sumenep. Tentang “ Pelaku Sejarah “ ini dapat kita simak dalam lanjutan tulisan ini.

RRI SUMENEP MENGUDARA
Hari, Tanggal dan Tahun Mengudara
Tahapan perjuangan rakyat Sumenep melalui lembaga perwakilan DPRDS waktu itu, dengan berorientasi pada kemanfaatan dan faktor pendukung berdirinya studio penyiaran RRI, tibalah saat “ Menuai Hasil”. Perjalanan panjang mencapai klimaks saat dikumandangkan pertama kali “ Inilah Radio Republik Indonesia Sumenep, dari Jalan Urip Sumoharjo ( dulu jalan Kalianget ). Awal sejarah mengudaranya siaran RRI Sumenep takkan pernah terlupakan, 5 Oktober l956, bertepatan dengan Peringatan Hari Bersenjata RI, melantunlah kata bermakna yang kini menjadi kisah monumental , dari seorang penyiar studio Hadi Sudibjo ( Almarhum ) dibantu Operator Studio M. Saleh Rais.
Masa awal operasional suatu lembaga penyiaran, adalah masa uji coba yang penuh dengan  tantangan bagi RRI Sumenep. Melalui kerja keras dan kesungguhan karyawan dalam melaksanakan tugas, akhinya saat diakui secara resmi RRI Sumenep sebagai perpanjangan jaringan penyiaran RRI Nasional, pada tanggal 5 Juli l957 Menteri Penerngan RI, Sudibjo meresmikan RRI Sumenep.

Sambutan dan paritispasi masyarakat
Sesuatu yang baru, tentu tidak mustahil  mengundang perhatian dan keingintahuan masyarakat, lebih-lebih yang baru itu pernah mereka bayangkan dan rasakan kemanfaatannya seperti berdirinya studio penyiaran satu-satunya di Madura yaitu RRI Sumenep.
Mengkaji pada keadaan diri, sarana dan prasarana penujnjang siaran amatlah dirasa kurang. Penyediaan materi siaran di dapur RRI ( Diskotik ) sangatlah minim, namun kondisi masyarakatpun kala itu tidak banyak menuntut, sehingga keberadaan yang berselimutkan keterbatasan itu masih mampu menarik simpati masyarakat pendengar. Mareka datang ke Studio untuk melihat bagaimana sang penyiar bercanda melalui mikrophon, serta siapa operator pengendali  suara penyiar. Kehadiran mereka ternyata tidak berhampa tangan, sebungkus roti bakar  dan kacang rebus  kadang- kadang menyertai kedatangan mereka.

PERKEMBANGAN DARI TAHUN KETAHUN

Periode I ( Sebelum Terbakar )
Pada mula pertama siaran, RRI Sumenep menggunakan seperangkat peralatan teknik berupa studio consule bermerk Gates buatan tahun l940 dan Pemancar RCA berkekuatan 250 watt. Itupun merupakan sisa Atau bekas peralatan teknik RRI Surabaya pada masa mempertahankan kemerdekaan. Pada masa pemakaian alat ini pancaran siaran RRI Sumenep dapat dinikmati oleh pendengarnya, melalui gelombang SW, 120 meter.
Untuk perkembangan daya pancar siaran berikutnya, RRI Sumenep mendapat bantuan dari Pemerintah Pusat lewat program Colombo Plan, tahun 1961, berupa renovasi peralatan Studio Consule bermerk “ Gates dan Pemancar 1 Kilowatt, type 1619 TCA. Sejak inilah RRI Sumenep memancarkan siarannya dengan jalangkauan yang lebih luas, melalui gelombang SW, 89,41 meter.
Seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan teknologi komunikasi radio, maka Pemerintah pusatpun berkeinginan meningkatkan kemajuan lembaga penyiaran RRI Sumenep yang dirasa telah banyak memberikan manfaat bagi masyarakat pendengar di daratan Madura dan kepulauannya. Tahun l976, RRI Sumenep dipercaya mengoperasikan peratalan studi Schlumberger Consule bantuan lunak Pemerintah Perancis, serta Pemancar Harris berkekuatan 10 Kilowatt dari Amerika. Peningkatan perangkat keras ini telah membawa perubahan besar daya jangkau penyiaran. Siaran yang semula hanya menggunakan pemancar SW, 89, 41 meter, kini ditemani pemancar baru pada jalur MW, gelombang 273 meter. Era baru bagi daya jangkau penyiarfan RRI Sumenep, kini tidak hanya dapat didengar oleh masyarakat Madura dan kepulauannya, tetapi dinikmati pula oleh masyarakat pesisir utara Jawa Timur. Daerah bekas Karesidenan Besuki ( Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, Jember, Banyidwangi dan sekitarnya, yang sebagian besar penduduknya adalah keturunan Madura.
Begitulah perkembangan perangkat keras penyiaran RRI Sumenep yang diikuti pula oleh penambahan perangkat lunak pengendalinya, sehingga teribtnya SK Menpen Nomor 101/KEP/MENPEN/l979 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Stasiun RRI Regional II. Rekrutmen terus dilakukan bertahap memenuhi kepentingan. Kalau dulu, pada awal penyiaran hanya terdapat l7 orang karyawan pengelola siaran, maka pada saat musibah itu datang melanda , dini hari 5 Maret l989, api melalap hampir seluruh  bangunan induk perkantoran dan studio, membawa suasana duka yang mendalam atas 133 karyawan RRI Sumenep kala itu.

PERISTIWA TERBAKARNYA RRI SUMENEP
Malam telah mulai larut, dentang waktu pukul 23.00 WIB telah lewat, terdengar sayup-sayup nada putar kaset mengalunkan syair dan tembang macopat klenengan. Tiba-Tiba dari atap studio besar terdengar letupan kecil yang ternyata menyemburkan percikan api. Mengetahui ada bara api yang seketika marak di atap studio besar itu, petugas yang bekerja malam itu tanggap. Jarum lonceng menunjuikkan 23,50 WIB, ditempuhlah upaya pengamanan pertama dengan menurunkan handel aliran listrik, sehingga padamlah seluruh nyala lampu dan lenyaplah seketika siaran kesenian daerah macopat klenengan. Petugas yang berjumlah 6 orang  serentak berupaya mengatasi kobaran api, diantaranya mencoba memanfaatkan alat pemadam kebakaran yang tersedia di Studio dan ada pula yang menghubungi petugas piket kepolisian dan petugas pemadam kebakaran untuk dimintai bantuannya. Sementara kobaran api semakin marak menyebar pada hampir seluruh bangunan studio besar. Bantuan dari pihak keamanan Polres Sumenep serta masyarakat sekitar RRI, berhasil menyelamatkan sebagian besar peralatan studio. Sedangkan mobil pemadam kebakaran dibantu mobil tangki PDAM yang sekitar pukul 01.00 WIB  baru berhasil memadamkan api sekitar pukul 03.00 WIB, namun seluruh bangunan studio dan perkantoran telah habis tinggal puing-puing saja.

Periode II ( Setelah terbakar )
Sekali di udara tetap di dara, adalah tekat yang dijunjung tinggi oleh seluruh angkasawan RRI Sumenep. Musibah kebakaran yang melanda seluruh gedung perkantoran dan studio dini hari Senin 6 Maret l989 tidak pernah memupuskan semangat yang telah tertanam dalam diri mereka. Selang sekitar 30 menit dari saat-saat padamnya api, tepatnya 03.30 WIB RRI Sumenep mengudara kembali kendati dengan peralatan sederhana dan penggunaan motor diesel sebagai pembangkitnya. Inilah awal babak sejarah perjalanan lembaga penyiaran RRI Sumenep, yang dalam penulisan sejarah ini disebut sebagai Periode II.
Hari-Hari pertama setelah musibah kebakaran, RRI Sumenep menyelenggarakan aktivitas dengan keterbatasannya. Bangunan koridor kanan kiri gedung RRI yang selamat dari amukan api, direnovasi untuk dimanfaatkan sebagai studio dan kantor sementara. Renovasi tersebut dilaksanakan atas bantuan dana Pemerintah Daerah I ditambah anggaran rutin RRI l989/l990. Sebagai hasilnya, studio penyiaran  dan perkantoran menempati bangunan di bagian timur, sedangkan pemancar serta kegiatan administrasi siaran menempati di bagian barat. Pada bangunan inilah RRI Sumenep mengalami kegiatan penyiaran dan administrasi perkantoran. Bagaikan membuka sebuah kantor baru, kegiatan administrasi ditata kembali, karena semua dokumen dan arsip musnah terbakar.
Benar kata orang, setiap musibah dan kemalangan pasti diiringi hikmah dan rahmat. Hal ini tampak pada perkembangan dan peningkatan pembangunan gedung dan sarana lainnya. Dalam kurun waktu 5 tahun  puing-puing gedung lama seakan menjelma menjadi sebuah bangunan yang lebih megah, kokoh dan indah.
Pembangunan itu dilaksanakan dengan dukungan APBN, sbb :
DIP l990 / l991           Pembangunan Gedung Studio Tahap I
DIP l991 / l992           Pembangunan Gedung Studio Tahap II
DIP l992 / l993           Pembangunan Gedung Studio Tahap III dan Fondasi Gedung  Perkantoran Lantai I
DIP l993 / l994           Pembangunan Gedung Kantor Lantai I
DIP l994 / l995           Pembangunan Gedung Kantor Lantai II
DIP l995 / l996           Peningkatan sarana jalan kantor dan Meubeler Perkantoran.
Sedangkan peningkatan sarana teknik dan studio pemancar sbb :
Tahun l992, RRI Sumenep memperoleh Peralatan Studio dan Pemancar, bantuan Lunak Pemerintah Austria berupa :
- 2 Unit Studio Consule, Merk Siemens
- 1 Unit Peralatan Editing Musik
- 1 Unit Peralatan News Room, MCR, dan UTS
- Seperangkat Transmitter seperangkat Transmitter Link
- Mobil Unit Siaran Luar ( OB Van ) Mercy Benz
Tahun l992, RRI Sumenep dilengkapi dengan suku cadang pemancar bantuan lunak Pemerintah Jepang, berupa :
- Pemancar 2 Kilowatt, bermerk NEC
- Mesin Pembangkit Listrik ( Ganset ) 100 KVA
Dengan peningkatan peralatan teknik penyiaran dan Gedung Studio serta Perkantoran yang representative, maka siaran RRI Sumenep dapat terdengar lebih mantap melalui pancaran gelombang MW 273 meter atau AM 1098 Khz, 94,6 Mhz (Pro 1) FM 93 Mhz (Pro 3), dan FM Stereo 101,3 Mhz (Pro 2).
Didukung oleh peningkatan Sumber Daya Manusia  lewat program pendidikan dan latihan Profesi, Siaran RRI Sumenep diharapkan dapat semakin memikat hati khalayak pendengarnya, bukan saja masyarakat Madura dan kepulauannya, tetapi juga masyarakat pendengar di pesisir utara Jawa Timur dan beberapa daerah lain di Luar Jawa.


Sumber : www.rrisumenep.com

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More