Pingin tahu sejarah perjalanan RRI Sumenep ?
Inilah
kisahnya.....
LATAR BELAKANG
PENDIRIAN RRI
Pada tahun 50-an,
tepatnya Juli 1954, terbaca sebuah berita pendek dalam rublik harian Surabaya
Post, bertajuk “STUDIO RRI untuk Sumenep” awal perjuangan berdiri stasiun RRI
di Sumenep hanya berupa tulisan 33 baris dalam 2 kolom, menyebutkan tentang
terbentuknya “resolusi” DPRDS Kabupaten Sumenep dalam sidangnya 1 Juli 1954.
Sebuah resolusi yang mendesak pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian
Penerangan dan Radio Pusat Studio RRI, agar di Sumenep diberikan satu studio
penyiaran RRI.
Memang, pada
dekade 50-an itu, para tokoh masyarakat Madura merasa ada sesuatu yang kurang
dalam merajut cepatnya derap perjuangan. Sesuatu itu adalah alat yang dapat
memperlancar penyaluran aspirasi masyarakat Madura, yang dapat menampilkan
sosok Madura yang utuh, dapat menampilkan seni dan budaya, sehingga saudara –
saudaranya dibelah lain bumi Nusantara “lebih mengenal” karakteristik
masyarakat Madura yang penuh dinamiki dan mengesankan. Alat yang dimaksud
adalah sebuah stasiun penyiaran Radio Republik Indonesia. Jadi, paling tidak
ada dua hal penting yang menjadi latar belakang keinginan mendirikan stasiun
penyiaran RRI di Madura, yaitu :
1. Keinginan
untuk memperkenalkan masyarakat Madura dengan segala ciri dan
karakter
yang sebenarnya.
2. Keinginan
untuk mengekpose potensi Madura, berupa seni dan budaya daerah yang
beraneka
ragam, potensi ekonomi, pariwisata, dll.
Karakteristik
Masyarakat Madura
Wilayah bekas
karesidenan dengan Madura secara administratif termasuk daerah propinsi Jawa
Timur. Pulau Madura hanya dipisahkan oleh sebuah selat, yang dapat diseberangi
kapal Fery selama 20 menit dari ibukota Propinsi Jawa Timur, Surabaya. Tetapi
kemudian pada tahun terbentang jembatan terpanjang di tanah air, di atas
selat Madura yang dinamai Jembatan Surabaya Madura (Suramadu). Luas wilayah
kedaratan kepulauan yang dikenal dengan sebutan pulau garam ini sekitar 5.168
km2, atau kurang lebih 10 persen dari luas daratan Jawa Timur. Adapun panjang
daratan kepulauannya dari ujung barat di Kamal sampai dengan ujung Timur di
Kalianget sekitar 180 km dan lebarnya berkisar 40 km. pulau ini terbagi dalam
empat wilayah kabupaten, masing-masing Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan,
dan Sumenep. Dengan Luas wilayah untuk Kabupaten Bangkalan 1.144, 75 km2
terbagi dalam delapan wilayah kecamatan, Kabupaten Sampang berluas wilayah
1.321,86 km2, terbagi dalam 12 kecamatan, Kabupaten Pamekasan memiliki luas
wilayah 844,19 km2, yang terbagi dalam 13 kecamatan, dan Kabupaten Sumenep
mempunyai luas wilayah 1.857,530 km2, terbagi dalam 27 kecamatan yang tersebar
di wilayah daratan dan kepulauan. Penduduk Madura dengan bahasa pengantar
pergaulan hidup sehari-harinya “Bahasa Madura” itu, 82,6 persen bersumber
kehidupan pada pertanian, 7,4 % perikanan, 10% berdagang dan memenuhi usaha
industri kecil. Kendati banyak orang mengatakan Madura pulau gersang dan panas,
ternyata di awal abad ke-19 pemerintah Hindia Belanda mengakui, bahwa Madura
adalah subur makmur. Hal ini terbaca pada : Pamungpraja dan sewindu pembangunan
desa 1950 – 1958 di Madura. Dalam buku tersebut Resident Madura, R. Sunarto
Hadiwijoyo, menulis bahwa Gubernur Jenderal Belanda, Maetsingker pernah
melaporkan pada Dewan Tujuh Belas di Negeri Belanda (Nederland), tentang betapa
subur dan makmurnya pulau Madura. Sejarah selanjutnya, di awal 1900 Pemerintah
Hindia Belanda melakukan perubahan yang amat drastis terhadap pulau ini. Madura
yang tadinya ditumbui hutan-hutan lebat dan tak kekurangan sumber air diubah
menjadi pulau gersang yang kemudian diwarisi masyarakat Madura saat ini.
Hutan-hutan jati yang terbentang dari Bangkalan ke Sumenep ditebas habis,
akibatnya terjadi erosi besar-besaran dan Pulau Madura menjadi gundul dan
gersang. Hal ini tentu saja mendatangkan kemiskinan pada masyarakat Madura,
menjadikan rakyat Madura gelisah. Untuk mempertahankan hidupnya, mereka hijrah
bertebaran di daerah lain dipesisir utara Jawa Timur, sehingga tidak heran jika
di daerah bekas karesidenan Besuki (Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember,
dan Probolinggi), sekarang ditemukan pemukiman keturunan Madura. Di sisi lain,
sebagai pekerja yang ulet dan pelaut yang bahariwan, rakyat Madura tetap
berpegang pada falsafat kehidupan laut “abantal omba’ asapo’ angen” (berbantal
ombak berselimut angin).
Sejak awal
Pemerintah Republik Indonesia sanpai ini mulailah diusahakan pengembalian
kesuburan tanah Madura dan kemakmuran rakyat dan lahan kritis. Kiranya hal
semacam itulah yang ingin disampaikan oleh parah Tokoh Masyarakat Madura kepada
saudara-saudaranya di belahan lain wilayah tanah air. Tentunya melalui cara
yang mudah dan murah, yaitu siaran Radio Republik Indonesia. Oleh karena itulah
maka diperjuangkan berdirinya stasiun RRI di Madura.
Menggali
potensi Madura
Kekayaan pulau
Madura tidak hanya dibidang pertanian, akan tetapi termasuk seni dan budaya
yang melatar belakangi kehidupan masyarakat Madura dan kepulauannya, termasuk
wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep. Potensi yang cukup besar masih banyak
mengendap di wilayah-wilayah “terpencil”, baik di daratan maupun di kepulauan.
Gerakan penghijauan Madura bertujuan untuk mengangkat potensi di bidang
pertanian. Untuk mengembankan sektor produksi hasil tanaman penduduk diadakan
pameran hasil penghijauan dan produksi tanaman lainnya pada saat-saat pesta
rakyat “Kerapan Sapi”. Selain
Madura dikenal sebagai daerah penghasil buah-buahan, di sini juga tersimpan
banyak ragam kesenian, seperti Gamelan, Topeng, Macopat, Ludruk, Karapan Sapi,
dan lain sebagainya. Semuanya ini merupakan kekayaan seni budaya yang mejadi
salah satu jenis komuditas pariwisata.
Disadari,
bagaimanapun kekayaan alam dan potensi seni budaya Madura, tanpa didukung oleh
sarana yang tepat diduga akan mengalami hambatan dan tantangan dalam hal
pengembangannya, sehingga terpikirlah pendirian stasiun penyiaran RRI, yang
diharapkan menjadi pendorong usaha penggalian potensi Madura, baik
pertanian, budaya dan pariwisata. Di samping itu RRI akan menyebarluaskan
hasil-hasil pembangunan Madura ke seluruh tanah air, yang diharapkan akan menumbuhkan
keinginan orang-orang Madura di peratauan untuk pulang dan bersama untuk
membangun daerah asalnya. Itulah idaman masyarakat Madura terutama para tokoh
yang tergabung dalam Delegasi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS),
memperjuangkan berdirinya stasiun RRI di Madura.
Mendirikan RRI
Betapa inginnya
para tokoh masyarakat Madura memperkenalkan Madura seutuhnya ke seluruh pelosok
tanah air tergambar pada kesungguhan mereka memperjuangkan berdirinya stasiun
RRI. Selaras dengan latar belakang situasi masyarakat di pulau Madura, maka
tujuan mendirikan stasiun penyiaran RRI sudah tersurat dalam bagian tulisan
terdahulu, yaitu :
Pertama
: Agar profil masyarakat Madura yang sebenarnya
dapat diinformasikan
kepada seluruh
Bangsa Indonesia.
Kedua
: Agar kegiatan masyarakat Madura dapat
disebarluaskan ke seluruh tanah
air.
Ketiga
: Agar masyarakat Madura dapat menerima
informasi tentang kegiatan-
kegiatan daerah lain di tanah air.
Keempat
: Agar potensi seni budaya tradisional Madura dapat
ditampilkan melalui
siaran-siaran
RRI.
Kesimpulannya,
masyarakat Madura menginginkan berdirinya stasiun RRI sebagai alat komunikasi
yang ampuh, dapat menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Madura.
Kebutuhan akan
Media Komunikasi
Menoleh ke
belakang di tahun 50an, Madura memang belum banyak terjangkau alat-alat
komunikasi massa. Tercatat pada dekade itu, beberapa penerbitan yang masuk ke
Madura, antara lain Surabaya Post, Terompet Masyarakat, Harian Umum, Suara
Rakyat, Bulletin Pajjar (berbahasa Madura), dan Bulletin “Moncar” yang
merupakan penertiban kantor Departemen Penerangan.
Kalau kita tilik
dari jumlah penerbitan yang bias dinikmati oleh masyarakat Madura, tentu tidak
seberapa dibandingkan dengan frekuensi penyaluran media cetak saat ini,
lebih-lebih kalau kita kaitkan dengan keterbatasan kemampuan masyarakat waktu itu.
Masyarakat di awal kemerdekaan sebagian besar “buta huruf” dan minim
pengetahuan. Itulah sebabnya, para tokoh masyarakat Madura memperjuangkan
berdirinya stasiun RRI sebagai sarana yang tepat dan efektif dalam
mengkomunikasikan pesan-pesan. Diyakini, bahwa penyiaran radio murah dan mudah
dijangkau oleh kemampuan masyarakat, karena pendengarnya tidak dituntut “pandai
membaca dan menulis”.
Khasanah Budaya
Madura
Dimaklumi bersama,
kekayaan budaya Pulau Garam Madura adalah beragam corak dan ragamya. Salah satu
yang sangat popular adalah Kerapan Sapi yang menjadi salah satu jenis obyek
wisata khas Madura. Setiap tahun Karapan Sapi yang menjadi salah satu jenis
obyek wisata khas Madura. Setiap tahun kerapan sapi diselenggarakan berjenjang
dari tingkat Kecamatan, Kabupaten, dan tingkat pembantu wilayah Madura. Sebagai
upaya memperebutkan piala bergilir Presiden RI.
Menelusuri
keberadaan seni budaya Madura, maka diakui bahwasannya Kabupaten Sumenep
merupakan “central of culture” atau pusat kebudayaan Madura. Di sini dapat
ditemui peninggalan Keraton Sumenep, makam para raja dan keturunannya serta
Museum Keraton yang merupakan bagian terpenting dari sejarah Madura.
Agaknya tidak
berlebihan, apabila mengungkap Khasanah Budaya Madura kita menceritakan
budaya Kabupaten Sumenep “mewakili” keberadaan seni budaya daerah Madura pada
umumnya, sehingga nanti akan terbukti, bahwa pemilihan kota Sumenep sebagai
lokasi pendirian stasiun RRI di Madura, banyak dipengaruhi oleh situasi ini.
Untuk mempelajari seni budaya tentu kita harus mengetahui sejarah pemerintahan
yang erat hubungannya dengan perkembangan dan pembinaan seni budaya tersebut.
Sejarah mencatat Aria Wiraraja sebagai Adipati Pertama di Madura,
diangkat oleh Raja Kertanegara dari Singosari, 31 Oktober 1269. Pemerintahannya
berpusat di Batuputih Sumenep, merupakan keraton pertama di Madura.
Pengangkatan Aria Wiraraja sebagai Adipati I Madura pada waktu itu, diduga
berlangsung dengan upacara kebesaran kerajaan Singosari yang dibawa ke Madura.
Di Batuputih yang kini menjadi sebuah Kecamatan kurang lebih 18 Km dari Kota
Sumenep, terdapat peninggalan-peninggalan keraton Batuputih, antara lain berupa
tarian rakyat, tari Gambuh dan tari Satria. Tarian rakyat yang digelar untuk
menyambut bertahtanya Aria Wiraraja dengan iringan lengkap Keraton Singosari.
Tari Gambuh yang semula hanya ditarikan di lingkup Keraton kemudian menjadi
tarian rakyat.
Pada tahun 1319
ketika pemerintahan berpusat di Aeng Anyar, Tanjung (Kecamatan Bluto), di bawah
pemerintahan Pangeran Jokarsari pengaruh Islam mulai masuk. Maka kesenian yang
berkembang di daerah tersebut adalah Gambus, Samroh, Pencak, di samping masih
bertahannya Saronen, Karawitan, Ludruk, Topeng, Macopat, dan sebagainya.
Pangeran Jokarsari dilanjutnya oleh putranya, R. Piturut, dan pemerintahannya
berpindah ke Keles (Kecamatan Ambunten). Di sinilah berkembang kesenian Sandur
yang masih terus hidup sampai sekarang. Begitu sampai pemerintahan raja-raja
terakhir di Madura, sekitar tahun 1926, ketika memerintah Tumenggung Ario
Prabuwinoto, jenis kesenian yang tumbuh dan berkembang adalah Kerawitan,
Ludruk, Topeng, Macopat, Hadrah, Samroh, Sandur termasuk beberapa jenis tarian
serta Karapan Sapi yang bertahan lestari hingga sekarang.
Potensi itulah
yang kelak kemudian digali dan menjadi sumber mata acara siaran RRI, sebagai
penggelora semangat membangun masyarakat Madura.
PROSES MEWUJUDKAN KEINGINAN
Menelusuri proses
terwujudnya keinginan mendirikan RRI stasiun lokal di Madura, erat kaitannya
dengan kegigihan masyarakat Madura, khususnya masyarakat Kabupaten Sumenep.
Melalui lembaga perwakilan DPRDS mulailah rangkaian proses mewujudkan keinginan
tersebut.
Upaya wakil
rakyat
Tidak pernah
terbayangkan sebelumnya, kalau hanya “map kumal” yang mungkin hanya dimiliki
seseorang arsiparis yang wartawan (pada jamannya), menjadi saksi sejarah amat
penting bagi perjuangan rakyat Kabupaten Sumenep mendirikan stasiun penyiaran
RRI. R. Sujuti Atm, adalah pemilik “map kumal” yang isinya guntingan kecil potongan
surat kabar Surabaya Post bertajuk “STUDIO RRI untuk Sumenep”. Surabaya Post
bertanggal penerbitan 7 Juli 1954 itu mengungkap kejadian bersejarah, ketika
sidang DPRDS Kabupaten Sumenep 1 Juli 1954 melahirkan sebuah “resolusi”,
mendesak pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Penerangan dan Radio Pusat
Studio RRI agar menyetujui berdirinya studio lokal RRI Madura di Sumenep.
Upaya awal wakil
rakyat itu kemudian menyusul ditetapkannya “delegasi” menghadap Menteri
Penerangan di Jakarta. Delegasi tersebut berdiri dari RH. Sastronegoro
(almarhum) selaku ketua delegasi, R. Sujuti sebagai anggota, dan Singoneng
Ayudo (almarhum) selaku wakil eksekutif. Mereka bertiga di Jakarta disambut
Sekretaris Jenderal Penerangan serta Wakil dari Direktorat Jenderal RRI, Drs.
Sumadi.
Angin segar serasa
berhembus, ketika sambutan hangat itu menelurkan kesepakatan pemerintah pusat
untuk melakukan serangkaian kegiatan peninjauan ke Sumenep, yang pada puncaknya
berupa kesempatan Panitia Pendirian RRI beraudiensi dengan Menteri Penerangan
RI, 22 Mei 1956 ketika kunjungan Menteri Penerangan Sudibjo ke Madura. Panitia
Pendirian RRI yang diberi kesempatan beraudiensi dengan Menteri Penerangan
terdiri dari :
1. RP.
Abdurrahman, Ketua DPRDS bertindak selaku Ketua.
2. R.
Sami’oedin, Wk. Sekr. DPRDS selaku anggota.
3. Abd.
Karim Dipasastro, Patih selaku anggota.
4. Asmawi,
Wk. Kepala Jawatan Penerangan, selaku anggota.
5. RB. Abd
Gaffar, anggota DPRDS selaku anggota.
6. Moh.
Rais, Ketua Organisasi Sinar Sumekar, anggota.
7. RA.
Sujingrat, perwakilan Jawatan Kebudayaan untuk Kabupaten Sumenep sebagai
angota.
Audiensi
berlangsung di kantor Karisidenan Madura Pamekasan, sebagai bentuk “meminta
ketegasan” Menteri Penerangan terhadap perjuangan Delegasi DPRDS Kabupaten
Sumenep untuk mendirikan Studio lokal RRI di Sumenep. Menarik kita simak,
karena dalam forum ini sempat dipertimbangkan lokasi lain untuk mendirikan
studio lokal RRI di Madura.
Menentukan
Lokasi
Tampaknya “babak
akhir” perolehan kesepakatan berdirinya stasuin lokal RRI di Sumenep tercatat
sebagai hasil perjuangan para anggota panitia pendirian RRI Sumenep. Ketika
tercetus pemikiran, bahwa Pamekasan sebagai kota Karesidenan Madura layak untuk
ditempati studio lokal RRI, maka kembali panitia mengemukakan alasan-alasan
yang kuat, mengapa RRI lokal Madura sebaiknya ditempatkan di Sumenep. Atas
pertimbangan yang diajukan Panitia tersebut, akhirnya audiensi singkat ini
memperoleh ketetapan Menteri Penerangan, yang menyetujui ditempatkannya studio
lokal RRI Madura di Sumenep. Selanjutnya, menyangkut pelaksanaan, dikuasakan
kepada Direktur Jenderal RRI dan Kepala Jawatan Penerangan Jawa Timur.
Agaknya, pertemuan
singkat Menteri Penerangan dengan Panitia pendirian RRI di Pamekasan itu
semakin mendekati titik awal terwujudnya keinginan, lebih-lebih setelah
Direktur Jenderal RRI, R. Maladi menyepakati penyediaan seperangkat peralatan
studio, pemancar, dan pegawainya, sementara kebutuhan lainnya menjadi tanggung
jawab Pemerintah Daerah untuk mengusahakannya.
PERSIAPAN MENDIRIKAN
RRI SUMENEP
Setelah tercapai
kesepakatan antara Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Penerangan RI
dengan Panitia Pendirian RRI untuk penempatan studio lokal RRI Madura di
Sumenep, maka Panitia mulai melakukan upaya menyiapkan segala perangkatnya,
meliputi perangkat keras dan perangkat lunak penyiaran.
a. Pengadaan
Gedung dan Studio
Sebagaimana
terungkap di atas, telah menjadi kesepakatan bahwa penyediaan sarana dan
prasarana penyiaran RRI studio lokal Sumenep, Pemerintah Daerah Tingkat II Sumenep
mempersiapkan Gedung Penyiaran dan Perkantoran, terletak di jalan Urip
Sumoharjo. Unik dan menarik menelusuri kisah sejarah gedung dan studio
penyiaran ini. Bangunan kokoh dan anggun yang hingga kini menjadi lokasi
representatif penyiaran RRI Sumenep, bermula dibangun tahun 1864 sebagai Gedung
Asisten Residen, yang ketika itu dijabat oleh seorang penguasa Kolonial Belanda
bernama “ Peter “. Lama kelamaan orang tidak lagi menyebut dengan nama kantor
Asisten Residen, tapi menyebuatkan dengan sebutan “ Kapetoran “, menyesuaikan
dengan nama sang Asisten tadi. Menjelang Indonesia merdeka, gedung ini kembali
menorehkan kesejahannya sebagai Sekretariat Komite Nasional Indonesia KNI, dan
pada masa Agresi II Belanda tahun 1947, bangunan ini menjadi markas dan asrama
Biro Perjuangan. Terakhir, di awal kemerdekaan gedung yang kokoh dan monumental
tersebut menjadi saksi rekruitmen tenaga pendidik. Di sini bermukim pelajar
putri Sekolah Guru Bawah, sehingga dikenal orang sebagai Asrama Putri SGB,
hingga tahun l956, ketika sebagian gedung ditempati studio dan perkantoran RRI
Sumenep.
b. Peralatan
Studio, Pemancar dan Antene
Segalanya serba
sederhana, ibarat bayi yang baru dilahirkan ibu pertiwi, peralatan studio,
pemancar, dan antene rasanya hanya dapat meneriakkan suara yang amat terbatas
untuk didengar. Selanjutnya yang mengesankan, berdirinya RRI Sumenep sebagai
buah keinginan bersama Pemerintah dan masyarakatnya, tercermin dalam pengadaan
antene pemancar dan peralatan studio. Bayangkan, peralatan studio yang tersedia
adalah concsule bermerk Gates buatan l940 dan pemancar RCA berkekuatan 250
Watt, adalah bantuan RRI Studio Jatim ( sekarang : RRI Surabaya ) Peralatan
studio dan pemancar ini telah menjalani tugas operasional perjuangan
mempertahankan kemerdekaan. Sedangkan “ Antene Pemancar “ diperoleh atas
bantuan dari Pimpinan PPLK ( Sekarang : PT. Garam ) Sutonegoro. Peralatan
studio dan antene pemancar dimaksud, kesemuanya kini masih terawat baik, dalam
kapasitasnya sebagai benda peninggalan bersejarah “ Pengaruh awal bahtera
penyiaran RRI Sumenep “.
Perangkat Lunak
a. Organisasi
RRI Sumenep
Harus diakui,
bahwa Organisasi Studio RRI Sumenep layaknya studio RRI lainnya, ketika itu
belum tersusun rapi sebagaimana organisasi Lembaga Pemerintahan yang telah
mempunyai kejelasan fungsi, tugas dan kewenangan masing-masing karyawan.
Kendati demikian pengendalian yang ketat dalam Ikatan Jaringan Kerja ( Network
) tetap diterapkan Pemerintah Pusat dalam hal ini Direktorat Jenderal RRI,
Departemen Penerangan. Sehingga yang bisa kita temui sekarang dalam jalinan
kerja sama organisasi sebuah studio RRI, adalah Penanggung Jadwab, dengan
sebutan :
- Kepala Studio (
Kepstu ) : adalah Penanggung Jawab keseluruhan jalannya roda organisasi
penyiaran RRI
- Kepala Bagian
Umum : adalan Penanggung Jawab segala kegiatan Ketata Usahaan.
- Kepala Bagian
Siaran : adalah Penanggung Jawab di bidang pengelolaan siaran dan berita.
- Kepala Bagian
Teknik : adalah Penanggung Jadwab Operasional Peralatan teknik
b.
Pejabat Pelaksana
Di awal
mengudaranya siaran RRI Sumenep, disebut oleh seorang nara sumber, bahwa jumlah
karyawan waktu itu adalah 17 orang menekuni tugas – tugas penyiaran. Supeno,
mantan Kepala Pekabaran RRI Surabaya, menjabat sebagai Kepala Studio, sedangkan
Yoso Prawiro selaku Kepala Bagian Umum, Hariyanto Kepala Bagian Siaran, dan
Kepala Bagian Teknik dijabat oleh Abd. Rajak. Membaca kisah awal berdirinya
Lembaga Penyiaran RRI Sumenep, mungkin di antara kita bertanya, siapakah
gerangan orang- orang pertama yang mengudarakan siaran RRI Sumenep. Tentang “
Pelaku Sejarah “ ini dapat kita simak dalam lanjutan tulisan ini.
RRI SUMENEP
MENGUDARA
Hari, Tanggal dan
Tahun Mengudara
Tahapan perjuangan
rakyat Sumenep melalui lembaga perwakilan DPRDS waktu itu, dengan berorientasi
pada kemanfaatan dan faktor pendukung berdirinya studio penyiaran RRI, tibalah
saat “ Menuai Hasil”. Perjalanan panjang mencapai klimaks saat dikumandangkan pertama
kali “ Inilah Radio Republik Indonesia Sumenep, dari Jalan Urip Sumoharjo (
dulu jalan Kalianget ). Awal sejarah mengudaranya siaran RRI Sumenep takkan
pernah terlupakan, 5 Oktober l956, bertepatan dengan Peringatan Hari Bersenjata
RI, melantunlah kata bermakna yang kini menjadi kisah monumental , dari seorang
penyiar studio Hadi Sudibjo ( Almarhum ) dibantu Operator Studio
M. Saleh Rais.
Masa awal
operasional suatu lembaga penyiaran, adalah masa uji coba yang penuh dengan
tantangan bagi RRI Sumenep. Melalui kerja keras dan kesungguhan karyawan
dalam melaksanakan tugas, akhinya saat diakui secara resmi RRI Sumenep sebagai
perpanjangan jaringan penyiaran RRI Nasional, pada tanggal 5 Juli l957 Menteri
Penerngan RI, Sudibjo meresmikan RRI Sumenep.
Sambutan dan
paritispasi masyarakat
Sesuatu yang baru,
tentu tidak mustahil mengundang perhatian dan keingintahuan masyarakat,
lebih-lebih yang baru itu pernah mereka bayangkan dan rasakan kemanfaatannya
seperti berdirinya studio penyiaran satu-satunya di Madura yaitu RRI Sumenep.
Mengkaji pada
keadaan diri, sarana dan prasarana penujnjang siaran amatlah dirasa kurang.
Penyediaan materi siaran di dapur RRI ( Diskotik ) sangatlah minim, namun
kondisi masyarakatpun kala itu tidak banyak menuntut, sehingga keberadaan yang
berselimutkan keterbatasan itu masih mampu menarik simpati masyarakat
pendengar. Mareka datang ke Studio untuk melihat bagaimana sang penyiar
bercanda melalui mikrophon, serta siapa operator pengendali suara
penyiar. Kehadiran mereka ternyata tidak berhampa tangan, sebungkus roti bakar
dan kacang rebus kadang- kadang menyertai kedatangan mereka.
PERKEMBANGAN
DARI TAHUN KETAHUN
Periode I (
Sebelum Terbakar )
Pada mula pertama
siaran, RRI Sumenep menggunakan seperangkat peralatan teknik berupa studio
consule bermerk Gates buatan tahun l940 dan Pemancar RCA berkekuatan 250 watt.
Itupun merupakan sisa Atau bekas peralatan teknik RRI Surabaya pada masa
mempertahankan kemerdekaan. Pada masa pemakaian alat ini pancaran siaran RRI
Sumenep dapat dinikmati oleh pendengarnya, melalui gelombang SW, 120 meter.
Untuk perkembangan
daya pancar siaran berikutnya, RRI Sumenep mendapat bantuan dari Pemerintah
Pusat lewat program Colombo Plan, tahun 1961, berupa renovasi peralatan Studio
Consule bermerk “ Gates dan Pemancar 1 Kilowatt, type 1619 TCA. Sejak inilah
RRI Sumenep memancarkan siarannya dengan jalangkauan yang lebih luas, melalui
gelombang SW, 89,41 meter.
Seiring dengan
perkembangan jaman dan kemajuan teknologi komunikasi radio, maka Pemerintah
pusatpun berkeinginan meningkatkan kemajuan lembaga penyiaran RRI Sumenep yang
dirasa telah banyak memberikan manfaat bagi masyarakat pendengar di daratan
Madura dan kepulauannya. Tahun l976, RRI Sumenep dipercaya mengoperasikan
peratalan studi Schlumberger Consule bantuan lunak Pemerintah Perancis, serta
Pemancar Harris berkekuatan 10 Kilowatt dari Amerika. Peningkatan perangkat
keras ini telah membawa perubahan besar daya jangkau penyiaran. Siaran yang
semula hanya menggunakan pemancar SW, 89, 41 meter, kini ditemani pemancar baru
pada jalur MW, gelombang 273 meter. Era baru bagi daya jangkau penyiarfan RRI
Sumenep, kini tidak hanya dapat didengar oleh masyarakat Madura dan
kepulauannya, tetapi dinikmati pula oleh masyarakat pesisir utara Jawa Timur.
Daerah bekas Karesidenan Besuki ( Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, Jember,
Banyidwangi dan sekitarnya, yang sebagian besar penduduknya adalah keturunan
Madura.
Begitulah
perkembangan perangkat keras penyiaran RRI Sumenep yang diikuti pula oleh
penambahan perangkat lunak pengendalinya, sehingga teribtnya SK Menpen Nomor
101/KEP/MENPEN/l979 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Stasiun RRI
Regional II. Rekrutmen terus dilakukan bertahap memenuhi kepentingan. Kalau dulu,
pada awal penyiaran hanya terdapat l7 orang karyawan pengelola siaran, maka
pada saat musibah itu datang melanda , dini hari 5 Maret l989, api melalap
hampir seluruh bangunan induk perkantoran dan studio, membawa suasana
duka yang mendalam atas 133 karyawan RRI Sumenep kala itu.
PERISTIWA
TERBAKARNYA RRI SUMENEP
Malam telah mulai
larut, dentang waktu pukul 23.00 WIB telah lewat, terdengar sayup-sayup nada
putar kaset mengalunkan syair dan tembang macopat klenengan. Tiba-Tiba dari
atap studio besar terdengar letupan kecil yang ternyata menyemburkan percikan
api. Mengetahui ada bara api yang seketika marak di atap studio besar itu,
petugas yang bekerja malam itu tanggap. Jarum lonceng menunjuikkan 23,50 WIB,
ditempuhlah upaya pengamanan pertama dengan menurunkan handel aliran listrik,
sehingga padamlah seluruh nyala lampu dan lenyaplah seketika siaran kesenian
daerah macopat klenengan. Petugas yang berjumlah 6 orang serentak
berupaya mengatasi kobaran api, diantaranya mencoba memanfaatkan alat pemadam kebakaran
yang tersedia di Studio dan ada pula yang menghubungi petugas piket kepolisian
dan petugas pemadam kebakaran untuk dimintai bantuannya. Sementara kobaran api
semakin marak menyebar pada hampir seluruh bangunan studio besar. Bantuan dari
pihak keamanan Polres Sumenep serta masyarakat sekitar RRI, berhasil
menyelamatkan sebagian besar peralatan studio. Sedangkan mobil pemadam
kebakaran dibantu mobil tangki PDAM yang sekitar pukul 01.00 WIB baru
berhasil memadamkan api sekitar pukul 03.00 WIB, namun seluruh bangunan studio
dan perkantoran telah habis tinggal puing-puing saja.
Periode II (
Setelah terbakar )
Sekali di udara
tetap di dara, adalah tekat yang dijunjung tinggi oleh seluruh angkasawan RRI
Sumenep. Musibah kebakaran yang melanda seluruh gedung perkantoran dan studio
dini hari Senin 6 Maret l989 tidak pernah memupuskan semangat yang telah
tertanam dalam diri mereka. Selang sekitar 30 menit dari saat-saat padamnya
api, tepatnya 03.30 WIB RRI Sumenep mengudara kembali kendati dengan peralatan
sederhana dan penggunaan motor diesel sebagai pembangkitnya. Inilah awal babak
sejarah perjalanan lembaga penyiaran RRI Sumenep, yang dalam penulisan sejarah
ini disebut sebagai Periode II.
Hari-Hari pertama
setelah musibah kebakaran, RRI Sumenep menyelenggarakan aktivitas dengan
keterbatasannya. Bangunan koridor kanan kiri gedung RRI yang selamat dari
amukan api, direnovasi untuk dimanfaatkan sebagai studio dan kantor sementara.
Renovasi tersebut dilaksanakan atas bantuan dana Pemerintah Daerah I ditambah
anggaran rutin RRI l989/l990. Sebagai hasilnya, studio penyiaran dan
perkantoran menempati bangunan di bagian timur, sedangkan pemancar serta
kegiatan administrasi siaran menempati di bagian barat. Pada bangunan inilah RRI Sumenep mengalami kegiatan penyiaran dan
administrasi perkantoran. Bagaikan membuka sebuah kantor baru, kegiatan
administrasi ditata kembali, karena semua dokumen dan arsip musnah terbakar.
Benar kata orang,
setiap musibah dan kemalangan pasti diiringi hikmah dan rahmat. Hal ini tampak
pada perkembangan dan peningkatan pembangunan gedung dan sarana lainnya. Dalam
kurun waktu 5 tahun puing-puing gedung lama seakan menjelma menjadi sebuah
bangunan yang lebih megah, kokoh dan indah.
Pembangunan itu
dilaksanakan dengan dukungan APBN, sbb :
DIP l990 / l991
Pembangunan Gedung Studio Tahap I
DIP l991 / l992
Pembangunan Gedung Studio Tahap II
DIP l992 / l993
Pembangunan Gedung Studio Tahap III dan
Fondasi Gedung Perkantoran Lantai I
DIP l993 / l994
Pembangunan Gedung Kantor Lantai I
DIP l994 / l995
Pembangunan Gedung Kantor Lantai II
DIP l995 / l996
Peningkatan sarana jalan kantor dan Meubeler
Perkantoran.
Sedangkan
peningkatan sarana teknik dan studio pemancar sbb :
Tahun l992, RRI
Sumenep memperoleh Peralatan Studio dan Pemancar, bantuan Lunak Pemerintah
Austria berupa :
- 2 Unit Studio
Consule, Merk Siemens
- 1 Unit Peralatan
Editing Musik
- 1 Unit Peralatan
News Room, MCR, dan UTS
- Seperangkat
Transmitter seperangkat Transmitter Link
- Mobil Unit
Siaran Luar ( OB Van ) Mercy Benz
Tahun l992, RRI
Sumenep dilengkapi dengan suku cadang pemancar bantuan lunak Pemerintah Jepang,
berupa :
- Pemancar 2
Kilowatt, bermerk NEC
- Mesin Pembangkit
Listrik ( Ganset ) 100 KVA
Dengan peningkatan
peralatan teknik penyiaran dan Gedung Studio serta Perkantoran yang
representative, maka siaran RRI Sumenep dapat terdengar lebih mantap melalui
pancaran gelombang MW 273 meter atau AM 1098 Khz, 94,6 Mhz (Pro 1) FM 93 Mhz
(Pro 3), dan FM Stereo 101,3 Mhz (Pro 2).
Didukung oleh
peningkatan Sumber Daya Manusia lewat program pendidikan dan latihan
Profesi, Siaran RRI Sumenep diharapkan dapat semakin memikat hati khalayak
pendengarnya, bukan saja masyarakat Madura dan kepulauannya, tetapi juga
masyarakat pendengar di pesisir utara Jawa Timur dan beberapa daerah lain di
Luar Jawa.
Sumber :
www.rrisumenep.com




Posting Komentar