INDAHNYA PULAU KANGEAN

Kepulauan Kangean merupakan gugusan pulau yang terletak bagian paling timur Pulau Madura, Laut Jawa. Kepulauan ini terdiri dari 60 pulau, dengan luas wilayah 487 km². Pulau-pulau terbesar adalah Pulau Kangean, Pulau Paliat dan Pulau Sepanjang. Kepulauan Kangean termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Sumenep, terletak pada posisi geografi 6°40′ – 7°20′ Lintang Selatan dan 115°20′ -116°00′ Bujur Timur, dibatasi oleh laut Bali, laut Jawa dan ujung timur Selat Madura.

MAKANAN KHAS KANGEAN

Kamboya adalah salah satu makanan khas dari Pulau Kangean, makanan ini bisa awet samapi satu minggu lamanya

TRANSPORTASI MENUJU KANGEAN

Kapal laut adalah transportasi utama menuju Pulau Kangean, karena pulau ini dikelilingi laut lepas. Ada beberapa kapal laut yang beroperasi disana, diantaranya adalah kapal express bahari, kpal sumekar, dan kapal perintis.

AKTIVITAS KANGEAN

Kangean adalah pulau yang memiliki sistem pemerintahan yang cukup baik, memiliki potensi yang tidak bisa dipandang sebelah mata dalam hal pendidikan karena sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai tenaga pengajar

ADMIN KANGEAN.ORG

SUARA KANGEAN (kangean.org) khusus dibuat untuk mempermudah guru-guru kangean mendapatkan informasi yang dibutuhkan, juga untuk indonesia umumnya.

SUARA KANGEAN (www.kangean.org)

SUARA KANGEAN (kangean.org) khusus dibuat untuk mempermudah guru-guru kangean mendapatkan informasi yang dibutuhkan, juga untuk indonesia umumnya.

SUARA KANGEAN (www.kangean.org)

SUARA KANGEAN (kangean.org) khusus dibuat untuk mempermudah guru-guru kangean mendapatkan informasi yang dibutuhkan, juga untuk indonesia umumnya.

SUARA KANGEAN (www.kangean.org)

SUARA KANGEAN (kangean.org) khusus dibuat untuk mempermudah guru-guru kangean mendapatkan informasi yang dibutuhkan, juga untuk indonesia umumnya.

Tampilkan postingan dengan label Berita Sumenep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Sumenep. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 September 2013

Penonton membanjiri Lomba Panjat Pinang di Kecamatan Arjasa Sumenep

 
Panjat pinang adalah salah satu lomba tradisional yang populer pada perayaan hari kemerdekaan Indonesia  sebagaimana yang digelar Panitia HUT ke-68 Kemerdekaan RI di Kecamatan Arjasa Kabupaten Sumenep hari ini Kamis, tanggal 5 September 2013 di lapangan Arjasa yang dimulai pukul 15.00 sampai jam 17.30 waktu setempat yang dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Panitia Induk M. Muhadi Wijaya.

Sejarah
Panjat pinang berasal dari zaman penjajahan Belanda.  Dahulu lomba panjat pinang diadakan oleh orang Belanda jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain. Adapun yang mengikuti lomba ini adalah orang-orang pribumi. Hadiah yang diperebutkan biasanya bahan makanan seperti keju, gula, serta pakaian seperti kemeja Maklum karena di kalangan pribumi barang-barang seperti ini termasuk mewah. Sementara orang pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, sedangkan orang-orang Bule menonton sambil tertawa.

Cara permainan :
Tata cara permainan ini belum berubah sejak dulu. Sebuah pohon pinang yang tinggi dan batangnya dilumuri oleh pelumas disiapkan oleh panitia perlombaan. Di bagian atas pohon tersebut, disiapkan berbagai hadiah menarik. Para peserta berlomba untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut dengan cara memanjat batang pohon.

Oleh karena batang pohon tersebut licin (karena telah diberi pelumas), para pemanjat batang pohon sering kali jatuh. Daya pikir, teknik, dan kerja sama para peserta untuk memanjat batang pohon inilah yang biasanya berhasil mengatasi licinnya batang pohon, dan menjadi atraksi menarik bagi para penonton.




Pro kontra
Memang terjadi pro dan kontra mengenai perlombaan yang satu ini. Satu pihak berpendapat bahwa sebaiknya perlombaan ini dihentikan karena dianggap mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Sementara pihak lain berpikir ada nilai luhur dalam perlombaan ini seperti: Kerja keras, pantang menyerah, kerja kelompok/gotong royong dan kejujuran. Entah dari sisi mana kita menilai. yang jelas permainan lomba ini sangat mengundang banyak penonton, bahkan pertandingan sepak bola yang terkesan merakyat dan voly ball yang pelaksanaannya bersamaan sempat terkalahkan. Camat Arjasa Purwo Edi Prawito mengungkapkan rasa puas dan mengucapkan selamat dan sukses kepada Ketua Umum dan Nur Afni salah satu panitia yang menangani kegiatan ini.





Sabtu, 27 April 2013

TASYAKKURAN DAN PERESMIAN GEDUNG BARU BANK JATIM CABANG KANGEAN




Dalam kurun waktu 12 tahun Bank Jatim telah mengembangkan sayapnya dalam melakukan pelayanan di bidang perbankan kepada masyarakat Kangean dan sekitarnya khususnya di bidang permodalan benar-benar telah menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Terbukti terhitung 31 Maret 2013 kemarin sudah menunjukkan prestasi 167 milyar dan tercatat sebanyak 2000 lebih nasabah. Dalam usianya yang semakin dewasa ini perlu kiranya dibarengi dengan layaknya sarana dan prasarana. Oleh karena itu Kepala Bank JatimCabang Kangean bertekad untuk selalu meningkatkan pelayanan dan tentunya harus didukung dengan sarana prasarana yang memadai.





Atas persetujuan Pimpinan Bank Jatim Pusat dan  didukung pemerintah setempat maka Gedung Bank Jatim Cabang Kangean yang lama tepatnya di Jalan Barat Alon-Alon Arjasa tanggal 2 Mei 2013 nanti secara resmi alamatnya dipindahkan ke gedung yang baru tepatnya di jalan Sriwijaya nomor 431 Desa Kalikatak Kec. Arjasa Kab. Sumenep, dengan dihadiri Bapak Eko Ananto selaku Direksi Operasional Bank Jatim telah menandai peresmiannya dengan pengguntingan pita yang disaksikan masyarakat pada tanggal 27 April 2013 pada acara tasyakkuran dan peresmian gedung baru tersebut.
Menurut  Sugeng Kepala Bank Jatim Cabang Kangean dalam laporannya bahwa Bank Jatim Cabang Kangean telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat Begitu pula Eko Ananto Direksi Operasional Bank Jatim Pusat dalam sambutannya menyampaikan bahwa nasabah yang ada di Kangean berkedudukan sama dengan nasabah yang tinggal di daerah lain tidak ada yang dibeda-bedakan. Hal ini terbukti bahwa Undian Bank Jatim pada tahun 2011 hadiah mobil Avanza diraih oleh nasabah dari Bank Jatim Cabang Kangean, disusul undian tahun 2012 hadiah yang sama yaitu mobil Avanza juga diraih oleh nasabah dari Kangean. Yang sangat menggemparkan lagi bahwa Jainuri warga Desa Duko Kecamatan Arjasa Kabupaten Sumenep telah memenangkan Hadiah ke-1 Undian Nasional tahun 2013 ini dengan mendapatkan hadiah utama uang tunai Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Hadiah tersebut telah diterimakan langsung kepada yang bersangkutan oleh Direksi Operasional Bank Jatim Pusat pada acara Tasyakkuran dan Peresmian Gedung Baru Bank Jatim Cabang Kangean tanggal 27 April 2013 pukul 21.00 di pelataran Gedung Bank Jatim Cabang Kangean jl. Sriwijaya nomor 431 Desa Kalikatak Kecamatan Arjasa Kabupaten Sumenep dengan disaksikan formpimka dan masyarakat Kangean.

Purwo Edi Prawito, S.STP selaku camat Arjasa dalam sambutannya menyampaikan  terima kasih kepada Bank Jatim yang selama ini telah banyak membantu masyarakat Kangean khususnya masyarakat Kecamatan Arjasa dalam setiap kegiatan. Tanpa banyak omong tapi diwujudkan dalam tindakan.
Ucapan Selamat Datang dan terima kasih disampaikan pula kepada Eko Ananto Direksi Operasional Bank Jatim yang telah berkenan hadir di Kecamatan Arjasa ini.

Selain laporan dan sambutan-sambutan acara ini dilengkapi pula dengan penyerahan cindera mata, pemotongan nasi tumpeng, Peninjauan gedung, dan ramah tamah



Jumat, 26 April 2013

Kabupaten Sumenep



Kabupaten Sumenep
Songennep
—  Pulau Madura > Jawa Timur  —

Searah jarum jam, tiga bangunan bersejarah di Sumenep : Masjid Jamik, Asta Tinggi dan Keraton

Lambang
Nama lain: Bumi Sumekar
Moto: Sumekar akronim dari: Sumenep Karaton (Bahasa Jawa : berbunga)

Peta Kabupaten Sumenep


Kabupaten Sumenep
Letak Kabupaten Sumenep di Pulau Madura
Koordinat: 7°1′27.30″S 113°53′24.74″E
Negara Indonesia
Provinsi Jawa Timur
Hari jadi 31 Oktober 1269
Pemerintahan
 - Bupati Drs. KH. A. Busyro Karim, M.Si
 - Wakil Bupati Ir. H. Soengkono Sidik, S.Sos
 - DAU Rp. 664.759.775.000,- [1]
Luas
 - Total 2.093,457573 km2
Ketinggian 3,05 m
Populasi
 - Total 1,041,915 jiwa
 - Kepadatan 498 jiwa/km²
Demografi
 - Agama Islam,Kristen,Katolik,Khong Hu Chu, Hindu, Budha.
 - Bahasa Bahasa Madura, Bahasa Indonesia
Kecamatan 27
Kelurahan 04
Desa 328
Zona waktu WIB (UTC+7)
Kode pos 69412
Kode area telepon (+62) 0328
Plat registrasi kendaraan M
Situs web www.sumenep.go.id

Sumenep (bahasa Madura: Songènèb) adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.093,45 km² dan populasi 1.041.915 jiwa. Ibu kotanya ialah Kota Sumenep.
Nama Songènèb sendiri dalam arti etimologinya merupakan Bahasa Kawi / Jawa Kuno yang jika diterjemaahkan mempunyai makna sebagai berikut :
Kata “Sung” mempunyai arti sebuah relung/cekungan/lembah, dan
kata “ènèb” yang berarti endapan yang tenang,
maka jika diartikan lebih dalam lagi Songènèb / Songennep (dalam bahasa Madura) mempunyai arti "lembah/cekungan yang tenang".
Penyebutan Kata Songènèb sendiri sebenarnya sudah popular sejak Kerajaan Singhasari sudah berkuasa atas tanah Jawa, Madura dan Sekitarnya, seperti yang telah disebutkan dalam kitab Pararaton tentang penyebutan daerah "Sumenep" pada saat sang Prabu Kertanegara mendinohaken (menyingkirkan) Arya Wiraraja (penasehat kerajaan dalam bidang politik dan pemerintahan) ke Wilayah Sumenep, Madura Timur pada tahun 1926 M
'“Hanata Wongira, babatangira buyuting Nangka, Aran Banyak Wide, Sinungan Pasenggahan Arya Wiraraja, Arupa tan kandel denira, dinohaksen, kinun adipati ring Sungeneb, anger ing Madura wetan”.'
Yang artinya:
“Adalah seorang hambanya, keturunan orang ketua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa-rupanya tidak dipercaya, dijauhkan disuruh menjadi adipati di Sumenep. Bertempat tinggal di Madura timur.”
Daftar isi  [sembunyikan]
1 Sejarah
1.1 Era Pra Kolonial
1.2 Era Kolonial
1.3 Kemerdekaan
2 Pemerintahan
3 Geografi dan administrasi
3.1 Luas Wilayah
3.2 Batas-batas administrasi
3.3 Pembagian administratif Pemerintahan
4 Demografi
4.1 Kependudukan
4.2 Agama
4.3 Bahasa
5 Iklim
6 Pendidikan
7 Kesehatan
8 Perekonomian
8.1 Sumber Daya Alam
8.2 Pertanian
8.3 Perikanan
8.4 Peternakan
9 Infrastruktur
9.1 Transportasi
9.2 Sarana
10 Layanan Publik
11 Pariwisata
11.1 Wisata Sejarah, Budaya dan Arsitektur
11.2 Wisata Religi/Ziarah
11.3 Wisata Alam
11.4 Wisata Bahari/Laut
11.5 Wisata Konservasi
11.6 Wisata Minat Khusus
12 Seni, Budaya, Kuliner Khas dan Even Wisata
13 Maskot
14 Ragam Hal
15 Olahraga
16 Daftar Pustaka
17 Referensi
18 Pranala luar
[sunting]Sejarah



Litografi oleh Auguste van Pers yang menggambarkan seorang pangeran dari Sumenep dan pelayannya pada masa Hindia Belanda
[sunting]Era Pra Kolonial
Pada Era Kerajaan Singhasari, daerah Sumenep dipimpin oleh seorang Adipati yang juga menjadi dalang pembangunan Kerajaan Majapahit, yaitu Arya Wiraraja. Dituliskan dalam berbagai kitab dan prasasti, salah satunya dalam kitab pararaton, bahwa Arya Wiraraja tidak dipercaya lagi oleh Raja Wisnuwardhana dan dinohaken (dijauhkan) ke Sumenep, Madura timur tepat pada tanggal 31 Oktober 1269 Masehi.
“Hanata Wongira, babatangira buyuting Nangka, Aran Banyak Wide, Sinungan Pasenggahan Arya Wiraraja, Arupa tan kandel denira, dinohaksen, kinun adipati ring Sungennep, anger ing madura wetan”.
Yang artinya: Adalah seorang hambanya, keturunan orang ketua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa-rupanya tidak dipercaya, dijauhkan disuruh menjadi adipati di Sumenep. Bertempat tinggal di Madura sebelah timur.
[sunting]Era Kolonial
Menurut buku "Tjareta Naghara Songenep", Pemerintahan Kompeni atau VOC datang ke wilayah Sumenep pada kurun pemerintahan Raden Bugan ( Kanjeng Pangeran Ario Yudanegara ) yang memerintah pada tahun 1648-1672, yang merupakan salah seorang sahabat dari Pangeran Trunojoyo. Setelah perjuangan Trunojoyo dapat dipatahkan oleh kompeni, maka Wilayah Pamekasan dan Sumenep kemudian takluk kepada kekuasaan Kompeni. Bahkan sepeninggal Kanjeng Tumenggung Ario Yudonegoro, Kompeni ikut campur menentukan tampuk pemerintahan di Sumenep.
Pada tahun 1704 Pangeran Cakraningrat meninggal, di Mataram terjadi peristiwa penandatanganan perjanjian antara Pangeran Puger dengan Kompeni, bahwa Kompeni mengakui kekuasaan Pangeran Puger yang saat itu sedang berselisih dengan Sunan Mas (Amangkurat III) atas Kesultanan Mataram di Plered. Sebaliknya Pangeran Puger berkewajiban menyerahkan sebagian dari tanah Jawa dan Madura bagian Timur kepada Kompeni. Dengan demikian untuk yang kedua kalinya Sumenep jatuh ke tangan Kompeni, hal tersebut terjadi dalam perjanjian antara Susunuhan Kerajaan Mataram dengan Kompeni pada tanggal pada tanggal 5 Oktober 1705. Adapun pernyataan tersebut ialah:
"Paduka yang Mahamulia Susuhunan dengan ini menyerahkan secara syah kepada Kompeni untuk melindungi daerah-daerah Sumenep dan Pamekasan…. secara yang sama seperti dilakukan oleh Bupati yang terdahulu waktu menyerahkan daerahnya kepada Kompeni….”(Resink, 1984: 252). Pada saat perjanjian tersebut daerah Sumenep berada dibawah masa pemerintahan Panembahan Romo (Cokronegoro II).
Pada masa pemerintahan Kanjeng R. Tumenggung Ario Cokronegoro IV (1744-1749) terjadi pemberontakan yang dipimpin Ke' Lesap dari Bangkalan. Pada saat itu Ke Lesap menggalang kekuatan rakyat yang sudah membenci pemerintahan Kompeni. Ia berjuang dari Timur dengan cara menguasai Keraton Sumenep. Ke Lesap memerintah Sumenep hanya dalam waktu 1 tahun yaitu tahun 1749-1750. Pemerintahan berikutnya dipegang oleh Kanjeng R. Ayu Rasmana Tirtonegoro (1750-1762) keturunan dari Kanjeng Pangeran Ario Yudanegara yang kemudian menikah dengan seorang ulama bernama Bendoro Saud. Beliau kemudian oleh Kompeni dinobatkan sebagai Adipati Sumenep dengan gelarnya Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro.
Raden Asirudin adalah Adipati Sumenep XXXI. Beliau adalah putra Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro dan Kanjeng R. Ayu Rasmana Tirtonegoro, atas permintaan kedua orangtuanya, beliau oleh Kompeni dikabulkan dan diangkat menjadi Adipati Sumenep menggantikan ayahnya. Beliau memerintah pada tahun 1762-1811 dengan gelar Pangeran Natakusuma I kemudian berganti menjadi Tumenggung Ario Notokusumo dan kemudian dikenal dengan sebutan Panembahan Somala beliau juga dikenal dengan Sultan Sumenep I. Selain itu beliau juga pendiri Keraton Sumenep, Masjid Jamik Sumenep dan Asta Tinggi. Selanjutnya setelah beliau mangkat, yang menggantikannya adalah putranya yang bernama Kanjeng Pangeran Ario Kusumadiningrat namun setelah beberapa bulan menjadi Adipati kemudian beliau dipindah ke Pasuruan oleh Pemerintah Hindia-Belanda dan sebagai penggantinya adalah Kanjeng R. Tumenggung Abdurraman Tirtadiningrat (saudara Kanjeng Pangeran Ario Kusumadiningrat) kemudian dinaikkan tahtanya menjadi Panembahan Natakusuma II dan selanjutnya dinaikan lagi tahtanya menjadi Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I.
Selama Sumenep jatuh kedalam wilayah pemerintahan VOC sampai pemerintahan Kolonial Belanda, Wilayah Sumenep tidak diperintah secara langsung, dan hal ini tentunya berbeda dengan wilayah lainnya di wilayah Hindia-Belanda, Para Penguasa Sumenep diberi kebebasan dalam memerintah wilayahnya namun tetap dalam ikatan-ikatan kontrak yang telah ditetapkan oleh Kolonial Kala itu. Selanjutnya pada tahun 1883, Pemerintah Hindia Belanda mulai menghapus sistem sebelumnya (keswaprajaan), Kerajaan-kerajaan di Madura termasuk di Sumenep dikelola langsung oleh Nederland Indische Regening.
Pada saat periode pemerintahan Kanjeng Pangeran Ario Pakunataningrat II yang memerintah pada tahun 1879-1901 pemerintahan kolonial mulai membangun berbagai fasilitas-fasilitas di Sumenep seiring dengan di berlakukannya politik etis pada saat itu, maka Pemerintah Hindia - Belanda di Sumenep, membangun beberapa fasilitas, di antaranya :
Pembangunan DAM/Irigasi di Sungai Kebon Agung
Pembangunan HIS Soemenep
Pembangunan fasilitas transportasi
Pembangunan Pabrik Garam Briket Modern di Kecamatan Kalianget.
[sunting]Kemerdekaan
Pada saat Perang Kemerdekaan, para pejuang Sumenep juga gigih mempertahankan kemerdekaan, sehingga pada tanggal 11 November 1947 terjadi pertempuran yang sangat tragis, dimana pada saat itu Kota Sumenep diserang oleh lima pesawat udara dari empat jurusan. pada saat itu, Belanda berhasil menguasai daerah pertahanan terakhir di Pulau Madura, yakni Sumenep. dan pada saat itu juga, praktis pemerintahan di Madura yang berpusat Kota Pamekasan dipindahkan ke desa Lanjuk, Manding, Sumenep.
[sunting]Pemerintahan

Sumenep terletak di ujung timur Pulau Madura, provinsi Jawa Timur. Sebelum tergabung dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, Sumenep diperintah oleh Adipati ( Rato atau Raja dalam konteks masyarakat lokal Madura ) dibawah pengaruh kerajaan-kerajaan besar yang pernah berdiri di Pulau Jawa. Adipati pertama di Sumenep adalah Arya Wiraraja, beliau memerintah pada tahun 1269 diangkat oleh Prabu Kertanegara Raja Singhasari. Pemerintahan kerajaan di Sumenep berakhir secara resmi pada tahun 1883 dengan diangkatnya Pangeran Pakunataningrat bergelar Kanjeng Pangeran Ario Mangkudiningrat sebagai Bupati Sumenep akibat dampak dihapuskannya sistem keswaprajaan di Sumenep oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada saat itu pula, wilayah kabupaten Sumenep dibawah pemerintahan langsung Nederland Indische Regening, sehingga Sumenep lebih dikenal dengan sebutan regent. Namun Perlu diketahui, dari tahun 1883 - 1929 para Bupati yang diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda tetap dari keturunan bangsawan dalem Keraton Sumenep.
Untuk daftar Bupati dari tahun 1929 - Sekarang, selengkapnya bisa dilihat di artikel ini : Daftar Bupati Sumenep
Daftar Adipati (Rato/Raja dalam konteks lokal Madura) di Sumenep[2]
No Nama Karaton Tahun Berkuasa
1 Arya Wiraraja (Aria Banyak Wide) Batu Putih 1269 - 1292
2 Arya Wiraraja II (Aria Bangah) Banasare 1292 - 1301
3 Arya Lembu Suranggana Danurwenda (Lembu Suranggana) Aeng Anyar 1301 - 1311
4 Arya Araspati 1311 - 1319
5 Panembahan Joharsari Bluto 1319 - 1331
6 Panembahan Mandaraga (Raden Piturut) Keles 1331 - 1339
7 Pangeran Natapraja Bukabu 1339 - 1348
8 Pangeran Nataningrat Baragung 1348 - 1358
9 Pangeran Secadiningrat I (Raden Agung Rawit) Banasare 1358 - 1366
10 Pangeran Secadiningrat II (Raden Tumenggung Gajah Pramada) 1366 - 1386
11 Arya Pulang Jiwa (Panembahan Blingi) Blingi, Poday 1386 - 1399
12 Arya Baribin (Pangeran Adipoday) Nyamplong, Poday 1399 - 1415
13 Pangeran Secadiningrat III (Arya Kudapanole Jokotole) Banasare, Lapataman 1415 - 1460
14 Pangeran Secadiningrat IV (Raden Wigonando) Gapura 1460 - 1502
15 Pangeran Secadiningrat V (Pangeran Siding Puri) Parsanga 1502 - 1559
16l Raden Tumenenggung Ario Kanduruan Karang Sabu 1559 - 1562
17 Pangeran Lor dan Pangeran Wetan 1562 - 1567
18 Pangeran Keduk I (Raden Keduk) 1567 - 1574
19 Pangeran Lor II (Raden Rajasa) Karang Toroy 1574 - 1589
20 Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro I (Raden Abdullah) 1589 - 1626
21 Kanjeng R. Tumenggung Ario Anggadipa (Raden Mas Anggadipa) 1626 - 1644
22 Kanjeng R. Tumenggung Ario Jaingpatih 1644 - 1648
23 Kanjeng Pangeran Ario Yudonegoro (Raden Bugan) 1648 - 1672
24 Kanjeng R. Tumenggung Pulang Jiwa dan Kajeng Pangeran Seppo 1672 - 1678
25 Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro II (Pangeran Rama) 1678 - 1709
26 Kanjeng R. Tumenggung Wiromenggolo (Raden Purwonegoro) 1709 - 1721
27 Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro III ( Raden Achmad ) 1721 - 1744
28 Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro IV ( Raden Alza ) 1744 - 1749
29 Raden Buka (Panglima perang Ke' Lesap) 1749 - 1750
30 Kanjeng R. Ayu Rasmana Tirtanegara dan Kanjeng R. Tumenggung Tirtanegara (Raden. Moh. Saud) Pajagalan 1750 - 1762
31 Panembahan Somala (Kanjeng R. Tumenggung Ario Natakusuma) 1762 - 1811
32 Sultan Abdurrahaman Pakunataningrat I (Kanjeng R. Tumenggung Abdurrahaman) 1811 - 1854
33 Panembahan Natakusuma II (Kanjeng R. Tumenggung Moh. Saleh Natanegara) 1854 - 1879
34 Kanjeng Pangeran Ario Mangkudiningrat (Pangeran Ario Pakunataningrat) 1879 - 1901
35 Kanjeng Pangeran Ario Pratamingkusuma (R. Tumenggung Ario Pratamingkusuma) 1901 - 1926
36 Kanjeng Pangeran Ario Prabuwinata (R. Tumenggung Ario Prabuwinata) 1926 - 1929


Branding Pariwisata Sumenep
Julukan dan semboyan
Sumenep memiliki semboyan "Sumekar", akronim dari "Sumenep Karaton", karena semenjak dahulu wilayah ini terdapat puluhan Keraton/Istana sebagai pusat pemerintahan sang Adipati. Untuk kepentingan pemasaran pariwisata, Sumenep mempunyai branding wisata "Sumenep The Heart Purity", julukan tersebut didasarkan pada tingkah pola masyarakatnya yang selalu menjunjung tinggi tata krama serta keramahan kepada setiap tamunya maupun kondisi geografis alamnya yang selalu memberikan keramahan dan kenyamanan bagi setiap wisatawan. Kota Sumenep juga dikenal dengan sebutan Bumi Sumekar, selain itu beberapa pulau di Sumenep juga ada julukannya tersendiri, semisal Kepulauan Kapajang untuk gabungan dari nama Pulau Kangean, Paleat, dan Sepanjang, karena dipulau-pulau inilah taman-taman laut berupa terumbu karang dan kehidupan laut lainnya berkembang layaknya taman nasional Bunaken[3]. Selain itu Pulau Kangean juga lebih dikenal dengan sebutan Pulau Cukir, karena di wilayah inilah fauna khas Sumenep berupa Ayam bekisar banyak dikembangkan. Sekarang hewan unggas ini menjadi maskot Sumenep dan juga Provinsi Jawa Timur.
[sunting]Geografi dan administrasi

[sunting]Luas Wilayah
Luas Wilayah Kabupaten Sumenep adalah 2.093,457573 km², terdiri dari pemukiman seluas 179,324696 km², areal hutan seluas 423,958 km², rumput tanah kosong seluas 14,680877 km² , perkebunan/tegalan/semak belukar/ladang seluas 1.130,190914 km² , kolam/ pertambakan/air payau/danau/waduk/rawa seluas 59,07 km² , dan lain-lainnya seluas 63,413086 km² . Untuk luas lautan Kabupaten Sumenep yang potensial dengan keanekaragaman sumber daya kelautan dan perikanannya seluas + 50.000 km² .
[sunting]Batas-batas administrasi


Pulau Masalembu, Sumenep
Kabupaten Sumenep yang berada diujung timur Pulau Madura merupakan wilayah yang unik karena terdiri wilayah daratan dengan pulau yang tersebar berjumlah 126 pulau ( berdasarkan hasil sinkronisasi Luas Wilayah Kabupaten Sumenep ) yang terletak di antara 113°32'54"-116°16'48" Bujur Timur dan di antara 4°55'-7°24' Lintang Selatan.
Jumlah pulau berpenghuni di Kabupaten Sumenep hanya 48 pulau atau 38%, sedangkan pulau yang tidak berpenghuni sebanyak 78 pulau atau 62%. Pulau Karamian di Kecamatan Masalembu adalah pulau terluar di bagian utara yang berdekatan dengan Kalimantan Selatan dan jarak tempuhnya + 151 Mil Laut dari Pelabuhan Kalianget, sedangkan Pulau Sakala merupakan pulau terluar di bagian timur yang berdekatan dengan Pulau Sulawesi dan jarak tempuhnya dari Pelabuhan Kalianget + 165 Mil Laut.Pulau yang paling utara adalah Pulau Karamian dalam gugusan Kepulauan Masalembu dan pulau yang paling timur adalah Pulau Sakala.
Perbatasan dengan daerah sekitarnya:
Sebelah selatan : Selat Madura dan Laut Bali
Sebelah Utara : Laut Jawa
Sebelah Barat : Kabupaten Pamekasan
Sebelah Timur : Laut Jawa dan Laut Flores
[sunting]Pembagian administratif Pemerintahan
Adapun wilayah administrasi pemerintahan yang ada di Kabupaten Sumenep tahun 2007, yang terdiri atas :
Kecamatan : 27
Kelurahan : 4
Desa : 328
Rukun Warga (RW) : 1774
Rukun Tetangga (RT) : 5569
Daftar kecamatan di Kabupaten Sumenep dapat dilihat pada boks di bagian akhir artikel ini.
[sunting]Demografi

[sunting]Kependudukan
Berdasarkan hasil pencacahan Sensus Pendudukan tahun 2010, Jumlah penduduk Kabupaten Sumenep sementara adalah 1.041.915 jiwa, yang terdiri atas 495.099 jiwa laki-laki dan 546.816 jiwa perempuan. Dari hasil SP2010 tersebut masih tampak bahwa penyebaran penduduk kabupaten Sumenep masih bertumpu di Kecamatan Kota Sumenep yaitu sebanyak 70.794 jiwa (6.75 %), diikuti Kecamatan Pragaan 65.031 jiwa (5.90 %) dan Kecamatan Arjasa sebanyak 59.701 jiwa (5,73%). Sedangkan Batuan merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit.
Dengan luas wilayah Kabupaten Sumenep sekitar 2.093,47 km² yang didiami oleh 1.0491.915 jiwa, maka rata2 tingkat kepadatan penduduk Kab Sumenep adalah sebanyak 498 jiwa/km². Kecamatan yang paling tinggi tingkat kepadatannya adalah Kec Kota Sumenep yakni 2.543 jiwa/km², dan yang paling rendah tingkat kepadatan penduduknya adalah Kec batuan yakni 446 jiwa/km2.
Sex ratio penduduk Kabupaten Sumenep berdsarkan SP 2010 adalah sebesar 90,54 yang artinya jumlah penduduk laki2 adalah 9,46 % lebih sedikit dibandingkan jumlah penduduk perempuan.
Laju Pertumbuhan penduduk Kabupaten Sumenep selama 10 tahun terakhir, yakni dari tahun 2000-2010 sebesar 0,55%. Laju pertumbuhan penduduk Kec Sapeken adalah yang tertinggi dibandingkan kec lain di kab sumenep yakni sebesar 1,60%, dan yang terendah adalah kec Talango sebesar -0,36%.
Jumlah Rumah Tangga berdasarkan hasil SP 2010 adalah 315.412 RT. Ini berarti bahwa banyaknya penduduk yang menempati satu rumah tangga dari hasil SP2010 rata2 sebanyak 3,30 orang. Rata2 anggota RT di setiap kec berkisar antara 2,48 orang-3,86 orang.
[sunting]Agama
Agama yang dianut oleh penduduk Kabupaten Sumenep beragam. Menurut data dari Badan Pusat Statistik dalam Sensus Penduduk tahun 2010, penganut Islam berjumlah 1.033.854 jiwa (98,11%), Kristen berjumlah 685 jiwa (0,33%), Katolik berjumlah 478 jiwa (0,27%), Buddha berjumlah 118 jiwa (0,03%), Hindu berjumlah 8 jiwa (0,01%), Kong Hu Cu berjumlah 5 jiwa (0,002%).[4]
[sunting]Bahasa
Bahasa yang digunakan di Kabupaten Sumenep adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, dan bahasa Madura sebagai bahasa sehari-hari. Selain itu beberapa daerah di Pulau Sapeken dan beberapa pulau kecil di sekitarnya, bahasa yang digunakan adalah bahasa bajo, bahasa Mandar, bahasa Makasar dan beberapa bahasa daerah yang berasal dari Sulawesi. Untuk Pulau Kangean bahasa yang digunakan adalah bahasa Madura dialek Kangean.
[sunting]Iklim

Kabupaten Sumenep termasuk dalam kategori daerah tropis. Seperti daerah lain di Indonesia, musim hujan di Sumenep dimulai bulan Oktober hingga Maret, dan musim kemarau bulan April hingga September. Rata-rata curah hujan di Sumenep adalah 1.479 mm. Berdasarkan data tahun 2011 Temperatur Suhu udara di Sumenep tertinggi terjadi di bulan September - Nopember (31,7° C). Suhu udara relatif konsisten sepanjang tahun, dengan suhu rata-rata 30 derajat Celsius. Jumlah curah hujan terbanyak terjadi di bulan Desember. Rata-rata penyinaran matahari terlama di bulan Agustus dan terendah di bulan Februari. Sedangkan Kecepatan angin di bulan Juli merupakan yang tertinggi dan terendah di bulan Maret.[5]
[sembunyikan]Data iklim untuk Sumenep
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 30.6
(87) 30.6
(87) 30.6
(87) 30.6
(87) 30.6
(87) 30.6
(87) 30
(86) 30.6
(87) 31.7
(89) 31.7
(89) 31.7
(89) 30.6
(87) 30,6
(87)
Rata-rata terendah °C (°F) 21.7
(71) 21.7
(71) 21.7
(71) 22.8
(73) 21.7
(71) 21.7
(71) 21.7
(71) 20.6
(69) 21.7
(71) 22.8
(73) 22.8
(73) 21.7
(71) 21,7
(71)
Presipitasi mm (inci) 233
(9.17) 222
(8.74) 219
(8.62) 139
(5.47) 146
(5.75) 78
(3.07) 40
(1.57) 15
(0.59) 13
(0.51) 36
(1.42) 144
(5.67) 255
(10.04) 1.479
(58,23)
Sumber: http://www.weatherbase.com/weather/weatherall.php3?s=969730&refer=&cityname=Djangdjangan-Indonesia&units=metric
[sunting]Pendidikan



Siswa HIS Sumenep pada tahun 1934
Bidang Pendidikan di Sumenep telah berkembang sejak jaman Penjajahan Hindia Belanda, di wilayah ini pernah berdiri sekolah HIS (Hollandsch-Inlandsche School) tahun 1901an yang terletak di daerah Pajagalan. Selain itu Pada tanggal 31 Agustus 1931 di daerah ini juga pernah berdiri sekolah setara HIS yakni HIS Partikelir (PHIS) Sumekar Pangabru yang terletak di daerah Karembangan tak jauh dari sekolah HIS milik pemerintah Hindia-Belanda. PHIS didirikan oleh Meneer Muhammad Saleh Werdisastro, putra dari budayawan dan sejarawan Madura, R. Musaid Werdisastro penulis "babad Songenep". Saat ini, di Sumenep tercatat ada 70 Sekolah Menengah Atas baik Negeri Maupun Swasta dan Madrasah Aliyah serta 2 sekolah Menengah kejuruan. [6]. Selain pendidikan umum tsb, Pendidikan Pesantren juga hampir terdapat diseluruh penjuru Sumenep, beberapa pondok pesantren besar yang terkenal antara lain, PP. Al-Amien Prenduan, PP. Annuqayyah Guluk-Guluk, PP. Mathaliul Anwar Sumenep, PP Al-Karimiyah, Gapura, dsb.
Daftar Perguruan Tinggi di Sumenep :
Universitas Wiraraja
Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA)
Sekolah Tinggi Ilmu Keislaman Annuqayah (STIKA) Guluk-Guluk
STKIP PGRI Sumenep
[sunting]Kesehatan

Infrastruktur pelayanan kesehatan di Sumenep semuanya di layani di pusat-pusat kesehatan masyarakat yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan. Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, di wilayah ini tercatat ada 30 Puskesmas yang tersebar di 27 Kecamatan dibantu oleh puskesmas pembantu sebanyak 71 unit, Poskesdes (Pos Kesehatan desa) sebanyak 231 unit dan Polindes lebih dari 200 unit. Sarana Kesehatan yang lain adalah tersedianya Rumah Sakit di Sumenep sebanyak 5 unit, 1 diantaranya masih dalam tahap pembangunan. Rumah Sakit yang tersebar di Sumenep terdiri dari rumah sakit untuk umum dan rumah sakit bersalin. Pada tahun 2011 lalu untuk memberikan pelayanan lebih bagi warga Pulau Arjasa dan Sekitarnya, Dinkes Sumenep menaikkan Status Puskesmas Arjasa menjadi Rumah Sakit tipe D.
Daftar Rumah Sakit di Sumenep :
RSUD dr. Moh. Anwar
RSI Garam Medical Center ( RS Mardi Waluyo ) Kalianget
RSI Al-amin, Prenduan ( tahap pembangunan )
RS Bersalin Esto Ebhu
RS Bersalin Sumekar
[sunting]Perekonomian

[sunting]Sumber Daya Alam
Sumber Daya Mineral di kabupaten Sumenep cukup bervariatif. terdiri dari jenis bahan galian golongan C antara lain: pospat, batu gamping, calsit/batu bintang, gipsum, pasir kuarsa, dolomite, batu lempung dan kaolin.
Sumber Daya Energi
Kabupaten Sumenep selain memiliki potensi kekayaan alam berupa bahan galian golongan C, juga memiliki bahan tambang strategis berupa golongan A yang terletak di Pulau Pagerungan Besar Pulau Sepanjang Kecamatan Sapeken, Perairan Pulau Giligenting. Berdasarkan perjalanan waktu selain di tiga Pulau tersebut masih ada beberapa tempat yang terindikasi mengandung gas dan minyak bumi. Diantaranya sekitar Pulau Masalembu, Perairan Kalianget, Perairan Pulau Raas dan Blok Kangean
Sumber Daya Air
Berdasarkan aspek geomorfologi, sumber daya air di Kabupaten Sumenep terbagi di 4 (empat) satuan wilayah: a). Daerah Dataran b). Daerah Perbukitan Bergelombang Halus c). Daerah Perbukitan Bergelombang Kasar d). Daerah Perbukitan yang Terpisah
[sunting]Pertanian
Komoditi Pangan


Hamparan Sawah di Sumenep
Berdasarkan data Tahun 2010 luas lahan sawah di Kabupaten Sumenep 23.852 Ha, terbagi menjadi 13.388 Ha (56,13 %) lahan sawah tadah hujan, 5.385 Ha (22,57 %) lahan berpengairan teknis, 1.959 Ha lahan semi teknis, 1.071 Ha lahan sederhana dan 2.049 Ha lahan memakai irigasi desa. Penggunaan lahan khususnya lahan bukan sawah meliputi pekarangan, tegal, perkebunan, ladang, huma, padang rumput, lahan sementara tidak diusahakan, hutan rakyat, hutan negara, rawa-rawa, tambak, kolam dll.
Tanaman pangan dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu komoditas beras (padi sawah dan padi gogo) dan komoditas palawija (jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ketela pohon dan ketela rambat).
Komoditas Hortikultura
Komoditas sayur mayur yang diusahakan oleh masyarakat petani di Kabupaten Sumenep pada Tahun 2008 berdasarkan data dari BPS (Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep) terbanyak adalah bawang merah dengan jumlah produksi 18.117,1 Kw mengalami penurunan jumlah produksi sebesar 64.42 % dari tahun sebelumnya. Lombok pada tahun 2008 merupakan komoditas terbanyak, pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 89.28 % dari tahu sebelumnya. Sedangkan perubahan jumlah produksi komoditas sayur mayur yang lain seperti : kacang panjang, mentimun, terong, kangkung, bayam dan tomat tidak terlalu signifikan. Untuk komoditas buah-buahan jumlah produksinya cukup bervariatif. Buah mangga dengan jumlah produksi 652.401 Kw merupakan komoditas buah tertinggi baik dari segi jumlah produksinya yaitu sebesar Rp. 127.218.195.000,-. Untuk komoditas buah lain seperti : pisang, pepaya, jeruk, jambu biji, rambutan, sawo, blimbing, salak dan alpukat sangat beravariatif.
Komoditas Perkebunan dan Kehutanan
Berdasarkan data statistik Tahun 2010 (Sumber : Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Sumenep dan Perum Perhutani KPH Madura di Pamekasan), hasil produksi komoditas perkebunan dan kehutanan di Kabupaten Sumenep sangat bervariatif. Untuk produksi tanaman perkebunan rakyat, jumlah produksi tertinggi adalah kelapa yaitu 35.068,66 ton dengan luas lahan 50.059,06 Ha. Sedangkan untuk produksi tembakau sebagai komoditas primadona bagi petani Kabupaten Sumenep pada khususnya secara kuantitas mengalami penurunan sebesar 39,10 % dari tahun sebelumnya. Tanaman tembakau sebagai komoditas favorit dikenal sebagai daun emas yang dapat merubah perilaku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani tembakau. Luas lahan tembakau pada tahun 2010 10.377,94 Ha, dengan jumlah produksi sebanyak 2,917.62 Ton.
[sunting]Perikanan
Berdasarkan estimasi produksi, potensi sumber daya ikan di perairan laut Kabupaten Sumenep mampu menghasilkan per tahun sebesar 22.000 ton per tahun. Sedangkan menurut estimasi potensi sumber lestari dihitung 60 % dari jumlah potensi yang ada atau 137.400 ton per tahun. Perkembangan produksi perikanan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani nelayan melalui peningkatan produksi dan produktivitas usaha yang berorientasi pada agrobisnis. Produksi perikanan yang dicapai kabupaten Sumenep pada tahun 2009 untuk perikanan laut mencapai 44.900,2 ton per tahun atau 32,68 % dari potensi lestari (mengalami peningkatan sebesar 10.09 % dari tahun sebelumya) dengan nilai produksi Rp. 169.553.210.000,-.
[sunting]Peternakan
Populasi ternak besar di Kabupaten Sumenep terbesar dan spesifik adalah ternak sapi. Terbukti pada tahun 2011 populasi sapi sekitar 357.067 ekor[7], yang masih dikelola secara tradisional (ternak kerja, penghasil pupuk kandang, kegemaran dan tabungan) sebagai sub komponen usaha tani.
Keunggulan sapi madura khususnya sapi Sumenep dengan daerah-daerah lain di Pulau Madura jenisnya adalah sama yaitu :
Tahan terhadap penyakit spesifik, mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap kondisi alam yang kurang baik.
Mempunyai respon yang baik terhadap perbaikan pakan melalui peningkatan protein maupun energi pakan yang ditujukan dengan pertimbangan bobot badan optimal.
Mempunyai tipe sapi potong dan kualitas daging yang baik.
Saat ini, Sumenep merupakan wilayah sentra pengembangan Sapi Nasional di Pulau Madura, Jawa Timur. Sejak zaman Belanda, Madura merupakan sentra sapi nasional. Bahkan Pulau Sapudi di Sumenep, menurut buku Peduli Peternakan Rakyat karya Sofyan Sudrajat, merupakan kawasan sapi terpadat di dunia.[8]
Populasi ternak kedua yang banyak dipelihara oleh masyarakat Sumenep khususnya masyarakat kepulauan di Kecamatan Arjasa dan Sapeken adalah ternak kerbau. Di daratan hanya terdapat di Kecamatan Kalianget. Jumlah ternak kerbau adalah 6.926 ekor. Populasi ternak ketiga adalah ternak kuda yang berjumlah 3.357 ekor.
Populasi ternak kecil yang banyak dipelihara di Kabupaten Sumenep adalah kambing berjumlah 113.224 ekor dan domba berjumlah 25.123 ekor. Sedangkan ternak unggas tercatat ayam ras berjumlah 235.584 ekor; ayam kampung 741.131 ekor dan itik 42.417 ekor.
[sunting]Infrastruktur

[sunting]Transportasi


Bandar Udara Trunojoyo
Karena letak geografis Kabupaten Sumenep yang terletak di ujung timur Madura dan letaknya yang begitu strategis (dekat dengan pulau Bali) maka untuk menuju wilayah Kebupaten Sumenep disediakan beberapa fasilitas untuk menunjang lancarnya moda transportasi, antara lain :
Terminal Bus Arya Wiraraja - merupakan terminal bus tipe A terbesar di Sumenep melayani seluruh penumpang dari luar daerah Sumenep.
Pelabuhan Kalianget - Merupakan sarana transportasi laut yang melayani penumpang dari daratan Sumenep ke wilayah Kepulauan maupun sebaliknya, selain itu juga pelabuhan kalianget melayani jalur transportasi laut Kalianget - Jangkar, Situbondo.
Bandar Udara Trunojoyo Sumenep - Merupakan Bandara yang berdiri pada tahun 1970an, yang saat ini dalam tahap pengembangan, dan direncanakan pula bahwa pada tahun 2012 mendatang Bandara ini akan beroprasi untuk penerbangan komersil.[9]
[sunting]Sarana
Listrik
Untuk menunjang kebutuhan kelistrikan di Sumenep, Travo Listrik yang di kelola oleh PLN PJU Sumenep saat ini sebesar 150 kV dengan Kapasitas 60 MVA. Untuk mengurangi perimintaan daerah-daerah yang belum teraliri Listrik PLN, Pemerintah daerah juga memberikan bantuan berupa pembangkit Listrik Tenaga Surya bagi daerah pesisir dan kepulauan Sumenep. [10]
Telekomunikasi
Saat ini akses telekomukasi yang dikelola oleh PT Telkom Sumenep untuk memberikan layanan kepada masyarakat Sumenep, jaringan telkom saat ini berkapasitas 3.633 SST.
Kantor Pos
Untuk menunjang kebutuhan pengriman barang atau paket di Sumenep telah berdiri Kantor Pos Indonesia yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan, Jumlah Kantor Pos di Sumenep saat ini telah berjumlah 16 unit, baik di daratan maupun di beberapa daerah kepulauan Sumenep.

[sunting]Layanan Publik

Bank dan ATM
Industri perbakan di Kabupaten Sumenep sebagian besar beroprasi di Jalan Trunojoyo Sumenep, di jalan utama inilah bank-bank nasional dan daerah membuka kantornya. Bank yang ada di wilayah ini antara lain :
BNI
BCA
BRI
Bank btpn
Bank Mandiri
Bank Syariah Mandiri
Bank Sinarmas
Bank Danamon Syariah
Bank Jatim
Bank BPR Jawa Timur
Bank UMKM Jatim
BPRS Bhakti Sumekar
Hotel
Sebagai daerah destinasi utama wisata Pulau Madura, di Sumenep, hotel-hotel mulai dibangun. menurut data PHRI Jawa Timur Hotel di Sumenep berjumlah 13 unit.[11] Secara keseluruhan lokasinya berpusat di Kota Sumenep dan Kalianget.
Daftar Hotel di Sumenep
Hotel Wijaya I
Hotel Wijaya II
Safari Jaya Hotel
Garuda Hotel
Sumekar Hotel
Hotel Utami Sumekar
Hotel Suramadu
Mitraland Hotel
Hotel Family Nur
C-1 Hotel
Apel Hotel
Dreamland Hotel
Baitul Kamol Hotel
[sunting]Pariwisata

Pariwisata merupakan salah satu potensi unggulan di Kabupaten Sumenep. Ada beberapa jenis potensi wisata, yang dapat dikelompokkan menjadi:
[sunting]Wisata Sejarah, Budaya dan Arsitektur


Labhang Mesem Karaton Songenep
Museum Keraton Sumenep merupakan museum yang dikelola oleh pemerintah daerah Sumenep yang didalamnya menyimpan berbagai koleksi benda-benda cagar budaya peninggalan keluarga Karaton Sumenep dan beberapa peninggalan masa kerajaan hindu budha seperti arca Wisnu dan Lingga yang ditemukan di Kecamatan Dungkek. Didalam museum terdapat juga beberapa koleksi pusaka peninggalan Bangsawan Sumenep seperti guci keramik dari Cina dan Kareta My Lord pemberian Kerajaan Inggris kepada Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I atas jasanya yang telah banyak membantu Thomas Stamford Raffles salah seorang Gubenur Inggris dalam penelitian yang dilakukannya di Indonesia.
Keraton Sumenep merupakan peninggalan pusaka Sumenep yang dibangun oleh Raja/Adipati Sumenep XXXI, Panembahan Sumolo Asirudin Pakunataningrat dan diperluas oleh keturunannya yaitu Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I. Karaton Sumenep sendiri letaknya tepat berada di depan Museum Karaton Sumenep,
Masjid Jamik Sumenep merupakan bangunan yang mempunyai arsitektur yang khas, memadukan berbagai kebudayaan menjadi bentuk yang unik dan megah, dibangun oleh Panembahan Somala Asirudin Pakunataningrat yang memerintah pada tahun 1762-1811 M dengan arsitek berkebangsaan tionghoa "law pia ngho"
Kota Tua Kalianget letaknya di sebelah timur kota Sumenep, disini para pengunjung bisa melihat peninggalan-peninggalan Pabrik garam, Arsitektur Kolonial dan beberapa daerah pertahanan yang dibangun Oleh Pemerintahan Kolonial saat menjajah wilayah Sumenep,
Rumah Adat Tradisional Madura Tanean Lanjhang , bisa ditemui di beberapa daerah menuju pantai lombang maupun menuju pantai slopeng,
Benteng VOC Kalimo'ok di Kalianget.
[sunting]Wisata Religi/Ziarah
Asta Karang Sabu merupakan kompleks pemakaman keluarga Raja / Adipati Sumenep yang memerintah pada abad 15 yaitu Pangeran Ario kanduruan, Pangeran Lor dan Pangeran Wetan. di daerah karang sabu inilah beliau memimpin pemerintah Sumenep pada saat itu.
Kompleks pemakaman Asta Tinggi Sumenep merupakan kompleks pemakaman Raja-Raja Sumenep yang dibangun pada tahun 1644 M. terletak di daerah dataran Tinggi Kebon Agung Sumenep.
Asta Yusuf merupakan salah satu makam penyebar agama islam di Pulau Talango, makam tersebut ditemukan oleh Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat ketika betolak menuju Bali pada tahun 1212 hijriah (1791),
Asta Katandur merupakan salah satu makam penyebar agama islam di Sumenep, Pangeran Katandur yang juga salah satu tokoh yang ahli dalam bidang pertanian dan menurut berbagai sumber, Pangeran Katandur juga merupakan pencipta tradisi kerapan sapi,
Makam Pangeran Panembahan Joharsari yang merupakan salah satu Adipati Sumenep V yang pertama kali memeluk Agama islam di Bluto,
[sunting]Wisata Alam


Hutan Cemara udang di sepanjang bibir Pantai Utara Sumenep sepanjang 30 km, menambah suasana indahnya Bumi Sumekar
Pantai Lombang adalah pantai dengan hamparan pasir putih dan gugusan tanaman cemara udang yang tumbuh di areal tepi dan sekitar pantai. Suasananya sangat teduh dan indah sekali. Pantai Lombang adalah satu-satunya pantai di Indonesia yang ditumbuhi pohon cemara udang,
Pantai Slopeng adalah pantai dengan hamparan gunung pasir putih yang mengelilingi sisi pantai sepanjang hampir 6 km. Kawasan pantai ini sangat cocok untuk mancing ria karena areal lautnya kaya akan beragam jenis ikan, termasuk jenis ikan tongkol,
Pantai Ponjug di Pulau Talango,
Pantai Badur di Kecamatan Batu Putih,
Taman Air Kiermata di Kecamatan Saronggi,
Goa Jeruk Asta Tinggi Sumenep,
Goa Kuning di Kecamatan Kangean,
Goa Payudan di Kecamatan Guluk-Guluk,
[sunting]Wisata Bahari/Laut
Kepulauan Kangean dan sekitarnya merupakan gugusan kepulauan Kabupaten Sumenep yang letaknya berada di wilayah ujung timur Pulau Madura. Mempunyai banyak pantai yang eksotik,
Wisata Taman Laut Mamburit Pulau Arjasa
Wisata Taman Laut Gililabak Pulau Talango
Pantai Pasir Putih dan Terumbu Karang Pulau Saor (Kecamatan Sapeken)
[sunting]Wisata Konservasi
Ayam bekisar, ayam bekisar adalah ayam khas Sumenep yang banyak dibudidayakan untuk peliharaan di Pulau Kangean.
Kijang, merupakan hewan penghuni hutan di daerah Arjasa. Jenis hewan ini termasuk hewan yang dilindungi.
Cemara Udang, merupakan satu jenis spesies cemara yang hanya ada di Kabupaten Sumenep dan di Pesisir Pantai Negeri China. Pohon cemara ini banyak dibudidayakan oleh masyarakat di wilayah Kecamatan Batang-Batang dan Kecamatan Dungkek, tak jauh dari lokai wisata Pantai Lombang.
[sunting]Wisata Minat Khusus
Tirta Sumekar Indah merupakan salah satu kompleks pemandian kolam renang yang ada di Sumenep, letaknya berada di kecamatan Batuan, sebelah barat kota Sumenep. Letaknya yang strategis, dikelilingi Perkebunan Pohon Jati dan Jambu Mente serta tak jauh dari wisata kompleks pemakaman Asta Tinggi membuat pemandian ini banyak di kunjungi warga saat akhir pekan dan liburan sekolah,
Water Park Sumekar, merupakan wisata air yang terletak tak jauh dibelakang lokasi Wisata kompleks Asta Tinggi, kondisi bangunannya yang terletak dilerang bukit Kasengan sangat menambah suasana alami di kawasan ini,
Buku Wiki memiliki buku bertajuk
Wisata:Sumenep
Alun-Alun Sumenep sekarang menjadi taman Adipura, setiap harinya khususnya pada malam hari dibangian utara Alun-Alun Sumenep ini terdapat pasar malam dengan menyajikan berbagai macam kuliner dan accesories yang bisa dinikmati dengan harga yang murah.
Wisata kesehatan di Pulau Giliyang Kecamatan Dungkek merupakan daerah di kabupaten Sumenep yang mempunyai kandungan O2/oksigen sebesar 21,5% atau 215.000 ppm.[12]
[sunting]Seni, Budaya, Kuliner Khas dan Even Wisata


Tari Madura



Tari Gambu



Karapan Sapi



Sate Madura



Soto Madura



Batik Madura

Seni Tari
Tari Moang Sangkal
Tari Codi' Somekkar
Tari Gambu
Seni Musik
Musik Saronen
Musik Tong-tong
Musik gambus
Seni Kriya
Batik Tulis Sumenep , sentra batik tulis di Sumenep terdapat di desa Pakandangan Barat Kecamatan Bluto,
Keris, sentra pembuatan senjata keris di Sumenep terdapat di desa Aeng tong tong dan desa desa Palongan Kecamatan Bluto,
Sentra Ukiran Sumenep Madura terdapat di desa Karduluk,
Sentra pembuatan Perahu Madura terdapat di desa Slopeng dan Pulau Sapudi,
Sentra Pembuatan Topeng Madura

Budaya
Mamaca
Mamapar gigi
Kalenengan Karaton
Tandha'
Tan-pangantanan
Ojhung
Topeng dhalang
Lodrok
Sape Sono'
Karapan Sapi
Upacara Adat Nyadar
Upacara Adat Penganten Ngekak Sangger

Makan dan Minuman Khas
Rujak Cingur Sumenep
Kaldu Kokot
Kalsot (kaldu soto)
Lontong Campor
Apen Parsanga
Soto Madura
Sate Madura
Man reman
Macho
Pattola
Mento
Nasi Jagung Kuah Maronggi ( daun kelor )
Kripik Singkong
Jubada
Rengginang Lorjuk
Pokak Saripah

Event Wisata
Semalam di Karaton
Prosesi Pelantikan Arya Wiraraja
Karapan Sapi
Tellasan Topak
[sunting]Maskot

Fauna Identitas Kabupaten Sumenep adalah Ayam bekisar yang berasal dari Pulau Kangean. Fauna ini tak hanya menjadi identitas daerah Sumenep namun juga menjadi identitas Provinsi Jawa Timur. Selain mempunyai fauna khas, Sumenep juga mempunyai flora khas yaitu Pohon Cemara Udang yang tumbuh subur di lokasi wisata Pantai Lombang. Saat ini pohon cemara udang termasuk salah satu flora yang dilindungi oleh UU dan Perda Kab. Sumenep[13]
[sunting]Ragam Hal

Media
RRI Sumenep
Radio Nada Fm
Radio Gema Sumekar
Faradis FM
Rama Fm
Radio Andhina FM
Risky Fm
Madu Fm
Nusa Fm
Kabar Madura
Radar Sumenep (Radar Madura| Jawa Pos Grup)
Info Sumenep
TV SIS ( Televisi Syiar Islam Sumenep )
S3TV ( Swara Sumenep Sumekar Televisi )
Madura Channel TV
Musisi dan Hiburan
Dalam dunia Hiburan dan musisi tanah air ternyata tak sedikit juga kalangan artis dari Sumenep, Madura. di antaranya ada Pelawak kocak, presenter sekaligus aktor Ferrasta Soebardi atau lebih dikenal dengan nama Pepeng . disamping itu ada juga artis cilik yaitu Randy Martin salah satu tokoh pemeran si Pitung di sinetron Pitung The Master dan Sayef Muhammad Billah yang memerankan tokoh Arif dalam film layar lebar Semesta Mendukung. selain aktor-aktor tersebut juga ada musisi dangdut, Imam S Arifin dan Yus Yunus.
Tokoh
Arya Wiraraja, Otak pendiri kerajaan Majapahit
Halim Perdanakusuma, Pahlawan Nasional Indonesia
Muhammad Saleh Werdisastro, Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Yogyakarta yang pertama dan Walikota Surakarta tahun 1951-1958
Prof. Abdul Hadi WM, Guru Besar Filsafat Univ. Paramadina, Budayawan
M.A. Rachman, Mantan Jaksa Agung RI Kabinet Gotong Royong
D. Zawawi Imron, Penyair Nasional
Edi Setiawan, Budayawan Madura
Achsanul Qasasi, Manager Persepam - Madura United (P-MU), Direktur Pojur Madura
[sunting]Olahraga

Olahraga ungulan yang sedang diminati oleh masyarakat Sumenep saat ini adalah cabang olah raga bola volly. Saat ini di Sumenep tercatat ada 442 klub, terdiri dari 328 klub putera dan 114 klub puteri, sehingga pada tahun 2005 lalu masuk dalam catatan MURI[14] sebagai klub bola volly terbanyak se-Indonesia. Selain olah raga bola volly, olahraga tradisional balbudih juga sering dimainkan oleh pemuda-pemuda di lapangan kecamatan. Olahraga tradisional ini hampir berkembang diseluruh masyarakat pedesaan di Sumenep. Olahraga ini dimainkan secara beregu[15]. Selain dua olahraga diatas, olahraga futsal, sepak bola, badminton, bola tennis, bela diri juga diminati oleh masyarakat Sumenep.
[sunting]Daftar Pustaka

Huub de Jonge.1989.Madura dalam empat zaman: pedagang, perkembangan ekonomi, dan Islam : suatu studi antropologi ekonomi. PT. Gramedia.
Werdisastra (raden.).1996.Babad Sumenep.Universitas Michigan : Garoeda Buana Indah.
Hélène Bouvier. 2002. Lèbur: seni musik dan pertunjukan dalam masyarakat Madura. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 9794614203, 9789794614204
Zulkarnaen, Iskandar. 2003. Sejarah Sumenep. Sumenep: Dinas Pariwisata dan kebudayaan kabupaten Sumenep.
Abdurrahchman, Drs.1971.Sejarah Madura Selajang Pandang. Sumenep.
Justine Vaisutis. 2007.Indonesia. Lonely Planet. ISBN 1741044359
Soebrata Sastro, Raden.1920.Perjalanan dari Soengenep ka Batawi. Balai Pustaka.
Sejarah Perjuangan Rakyat Sumenep 1945-1950


sumber :http://id.wikipedia.org

Selasa, 23 Oktober 2012

Sejarah RRI Sumenep


Pingin tahu sejarah perjalanan RRI Sumenep ?

Inilah kisahnya..... 


  
LATAR BELAKANG PENDIRIAN RRI

Pada tahun 50-an, tepatnya Juli 1954, terbaca sebuah berita pendek dalam rublik harian Surabaya Post, bertajuk “STUDIO RRI untuk Sumenep” awal perjuangan berdiri stasiun RRI di Sumenep hanya berupa tulisan 33 baris dalam 2 kolom, menyebutkan tentang terbentuknya “resolusi” DPRDS Kabupaten Sumenep dalam sidangnya 1 Juli 1954. Sebuah resolusi yang mendesak pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Penerangan dan Radio Pusat Studio RRI, agar di Sumenep diberikan satu studio penyiaran RRI.
Memang, pada dekade 50-an itu, para tokoh masyarakat Madura merasa ada sesuatu yang kurang dalam merajut cepatnya derap perjuangan. Sesuatu itu adalah alat yang dapat memperlancar penyaluran aspirasi masyarakat Madura, yang dapat menampilkan sosok Madura yang utuh, dapat menampilkan seni dan budaya, sehingga saudara – saudaranya dibelah lain bumi Nusantara “lebih mengenal” karakteristik masyarakat Madura yang penuh dinamiki dan mengesankan. Alat yang dimaksud adalah sebuah stasiun penyiaran Radio Republik Indonesia. Jadi, paling tidak ada dua hal penting yang menjadi latar belakang keinginan mendirikan stasiun penyiaran RRI di Madura, yaitu :
1.       Keinginan untuk memperkenalkan masyarakat Madura dengan segala ciri dan 
          karakter yang sebenarnya.
2.       Keinginan untuk mengekpose potensi Madura, berupa seni dan budaya daerah yang 
          beraneka ragam, potensi ekonomi, pariwisata, dll.

Karakteristik Masyarakat Madura
Wilayah bekas karesidenan dengan Madura secara administratif termasuk daerah propinsi Jawa Timur. Pulau Madura hanya dipisahkan oleh sebuah selat, yang dapat diseberangi kapal Fery selama 20 menit dari ibukota Propinsi Jawa Timur, Surabaya. Tetapi kemudian pada tahun terbentang  jembatan terpanjang di tanah air, di atas selat Madura yang dinamai Jembatan Surabaya Madura (Suramadu). Luas wilayah kedaratan kepulauan yang dikenal dengan sebutan pulau garam ini sekitar 5.168 km2, atau kurang lebih 10 persen dari luas daratan Jawa Timur. Adapun panjang daratan kepulauannya dari ujung barat di Kamal sampai dengan ujung Timur di Kalianget sekitar 180 km dan lebarnya berkisar 40 km. pulau ini terbagi dalam empat wilayah kabupaten, masing-masing Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Dengan Luas wilayah untuk Kabupaten Bangkalan 1.144, 75 km2 terbagi dalam delapan wilayah kecamatan, Kabupaten Sampang berluas wilayah 1.321,86 km2, terbagi dalam 12 kecamatan, Kabupaten Pamekasan memiliki luas wilayah 844,19 km2, yang terbagi dalam 13 kecamatan, dan Kabupaten Sumenep mempunyai luas wilayah 1.857,530 km2, terbagi dalam 27 kecamatan yang tersebar di wilayah daratan dan kepulauan. Penduduk Madura dengan bahasa pengantar pergaulan hidup sehari-harinya “Bahasa Madura” itu, 82,6 persen bersumber kehidupan pada pertanian, 7,4 % perikanan, 10% berdagang dan memenuhi usaha industri kecil. Kendati banyak orang mengatakan Madura pulau gersang dan panas, ternyata di awal abad ke-19 pemerintah Hindia Belanda mengakui, bahwa Madura adalah subur makmur. Hal ini terbaca pada : Pamungpraja dan sewindu pembangunan desa 1950 – 1958 di Madura. Dalam buku tersebut Resident Madura, R. Sunarto Hadiwijoyo, menulis bahwa Gubernur Jenderal Belanda, Maetsingker pernah melaporkan pada Dewan Tujuh Belas di Negeri Belanda (Nederland), tentang betapa subur dan makmurnya pulau Madura. Sejarah selanjutnya, di awal 1900 Pemerintah Hindia Belanda melakukan perubahan yang amat drastis terhadap pulau ini. Madura yang tadinya ditumbui hutan-hutan lebat dan tak kekurangan sumber air diubah menjadi pulau gersang yang kemudian diwarisi masyarakat Madura saat ini. Hutan-hutan jati yang terbentang dari Bangkalan ke Sumenep ditebas habis, akibatnya terjadi erosi besar-besaran dan Pulau Madura menjadi gundul dan gersang. Hal ini tentu saja mendatangkan kemiskinan pada masyarakat Madura, menjadikan rakyat Madura gelisah. Untuk mempertahankan hidupnya, mereka hijrah bertebaran di daerah lain dipesisir utara Jawa Timur, sehingga tidak heran jika di daerah bekas karesidenan Besuki (Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Probolinggi), sekarang ditemukan pemukiman keturunan Madura. Di sisi lain, sebagai pekerja yang ulet dan pelaut yang bahariwan, rakyat Madura tetap berpegang pada falsafat kehidupan laut “abantal omba’ asapo’ angen” (berbantal ombak berselimut angin).
Sejak awal Pemerintah Republik Indonesia sanpai ini mulailah diusahakan pengembalian kesuburan tanah Madura dan kemakmuran rakyat dan lahan kritis. Kiranya hal semacam itulah yang ingin disampaikan oleh parah Tokoh Masyarakat Madura kepada saudara-saudaranya di belahan lain wilayah tanah air. Tentunya melalui cara yang mudah dan murah, yaitu siaran Radio Republik Indonesia. Oleh karena itulah maka diperjuangkan berdirinya stasiun RRI di Madura.

Menggali potensi Madura
Kekayaan pulau Madura tidak hanya dibidang pertanian, akan tetapi termasuk seni dan budaya yang melatar belakangi kehidupan masyarakat Madura dan kepulauannya, termasuk wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep. Potensi yang cukup besar masih banyak mengendap di wilayah-wilayah “terpencil”, baik di daratan maupun di kepulauan. Gerakan penghijauan Madura bertujuan untuk mengangkat potensi di bidang pertanian. Untuk mengembankan sektor produksi hasil tanaman penduduk diadakan pameran hasil penghijauan dan produksi tanaman lainnya pada saat-saat pesta rakyat “Kerapan Sapi”. Selain Madura dikenal sebagai daerah penghasil buah-buahan, di sini juga tersimpan banyak ragam kesenian, seperti Gamelan, Topeng, Macopat, Ludruk, Karapan Sapi, dan lain sebagainya. Semuanya ini merupakan kekayaan seni budaya yang mejadi salah satu jenis komuditas pariwisata.
Disadari, bagaimanapun kekayaan alam dan potensi seni budaya Madura, tanpa didukung oleh sarana yang tepat diduga akan mengalami hambatan dan tantangan dalam hal pengembangannya, sehingga terpikirlah pendirian stasiun penyiaran RRI, yang diharapkan  menjadi pendorong usaha penggalian potensi Madura, baik pertanian, budaya dan pariwisata. Di samping itu RRI akan menyebarluaskan hasil-hasil pembangunan Madura ke seluruh tanah air, yang diharapkan akan menumbuhkan keinginan orang-orang Madura di peratauan untuk pulang dan bersama untuk membangun daerah asalnya. Itulah idaman masyarakat Madura terutama para tokoh yang tergabung dalam Delegasi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS), memperjuangkan berdirinya stasiun RRI di Madura.

Mendirikan RRI
Betapa inginnya para tokoh masyarakat Madura memperkenalkan Madura seutuhnya ke seluruh pelosok tanah air tergambar pada kesungguhan mereka memperjuangkan berdirinya stasiun RRI. Selaras dengan latar belakang situasi masyarakat di pulau Madura, maka tujuan mendirikan stasiun penyiaran RRI sudah tersurat dalam bagian tulisan terdahulu, yaitu :
Pertama          : Agar profil masyarakat Madura yang sebenarnya dapat diinformasikan 
                        kepada seluruh Bangsa Indonesia.
Kedua             : Agar kegiatan masyarakat Madura dapat disebarluaskan ke seluruh tanah 
                        air.
Ketiga             : Agar masyarakat Madura dapat menerima informasi tentang kegiatan-
                         kegiatan daerah lain di tanah air.
Keempat        : Agar potensi seni budaya tradisional Madura dapat ditampilkan melalui 
                       siaran-siaran RRI.
Kesimpulannya, masyarakat Madura menginginkan berdirinya stasiun RRI sebagai alat komunikasi yang ampuh, dapat menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Madura.

Kebutuhan akan Media Komunikasi
Menoleh ke belakang di tahun 50an, Madura memang belum banyak terjangkau alat-alat komunikasi massa. Tercatat pada dekade itu, beberapa penerbitan yang masuk ke Madura, antara lain Surabaya Post, Terompet Masyarakat, Harian Umum, Suara Rakyat, Bulletin Pajjar (berbahasa Madura), dan Bulletin “Moncar” yang merupakan penertiban kantor Departemen Penerangan.
Kalau kita tilik dari jumlah penerbitan yang bias dinikmati oleh masyarakat Madura, tentu tidak seberapa dibandingkan dengan frekuensi penyaluran media cetak saat ini, lebih-lebih kalau kita kaitkan dengan keterbatasan kemampuan masyarakat waktu itu. Masyarakat di awal kemerdekaan sebagian besar “buta huruf” dan minim pengetahuan. Itulah sebabnya, para tokoh masyarakat Madura memperjuangkan berdirinya stasiun RRI sebagai sarana yang tepat dan efektif dalam mengkomunikasikan pesan-pesan. Diyakini, bahwa penyiaran radio murah dan mudah dijangkau oleh kemampuan masyarakat, karena pendengarnya tidak dituntut “pandai membaca dan menulis”.

Khasanah Budaya Madura
Dimaklumi bersama, kekayaan budaya Pulau Garam Madura adalah beragam corak dan ragamya. Salah satu yang sangat popular adalah Kerapan Sapi yang menjadi salah satu jenis obyek wisata khas Madura. Setiap tahun Karapan Sapi yang menjadi salah satu jenis obyek wisata khas Madura. Setiap tahun kerapan sapi diselenggarakan berjenjang dari tingkat Kecamatan, Kabupaten, dan tingkat pembantu wilayah Madura. Sebagai upaya memperebutkan piala bergilir Presiden RI.
Menelusuri keberadaan seni budaya Madura, maka diakui bahwasannya Kabupaten Sumenep merupakan “central of culture” atau pusat kebudayaan Madura. Di sini dapat ditemui peninggalan Keraton Sumenep, makam para raja dan keturunannya serta Museum Keraton yang merupakan bagian terpenting dari sejarah Madura.
Agaknya tidak  berlebihan, apabila mengungkap Khasanah Budaya Madura kita menceritakan budaya Kabupaten Sumenep “mewakili” keberadaan seni budaya daerah Madura pada umumnya, sehingga nanti akan terbukti, bahwa pemilihan kota Sumenep sebagai lokasi pendirian stasiun RRI di Madura, banyak dipengaruhi oleh situasi ini. Untuk mempelajari seni budaya tentu kita harus mengetahui sejarah pemerintahan yang erat hubungannya dengan perkembangan dan pembinaan seni budaya tersebut.
Sejarah mencatat Aria Wiraraja sebagai Adipati Pertama di Madura, diangkat oleh Raja Kertanegara dari Singosari, 31 Oktober 1269. Pemerintahannya berpusat di Batuputih Sumenep, merupakan keraton pertama di Madura. Pengangkatan Aria Wiraraja sebagai Adipati I Madura pada waktu itu, diduga berlangsung dengan upacara kebesaran kerajaan Singosari yang dibawa ke Madura. Di Batuputih yang kini menjadi sebuah Kecamatan kurang lebih 18 Km dari Kota Sumenep, terdapat peninggalan-peninggalan keraton Batuputih, antara lain berupa tarian rakyat, tari Gambuh dan tari Satria. Tarian rakyat yang digelar untuk menyambut bertahtanya Aria Wiraraja dengan iringan lengkap Keraton Singosari. Tari Gambuh yang semula hanya ditarikan di lingkup Keraton kemudian menjadi tarian rakyat.
Pada tahun 1319 ketika pemerintahan berpusat di Aeng Anyar, Tanjung (Kecamatan Bluto), di bawah pemerintahan Pangeran Jokarsari pengaruh Islam mulai masuk. Maka kesenian yang berkembang di daerah tersebut adalah Gambus, Samroh, Pencak, di samping masih bertahannya Saronen, Karawitan, Ludruk, Topeng, Macopat, dan sebagainya. Pangeran Jokarsari dilanjutnya oleh putranya, R. Piturut, dan pemerintahannya berpindah ke Keles (Kecamatan Ambunten). Di sinilah berkembang kesenian Sandur yang masih terus hidup sampai sekarang. Begitu sampai pemerintahan raja-raja terakhir di Madura, sekitar tahun 1926, ketika memerintah Tumenggung Ario Prabuwinoto, jenis kesenian yang tumbuh dan berkembang adalah Kerawitan, Ludruk, Topeng, Macopat, Hadrah, Samroh, Sandur termasuk beberapa jenis tarian serta Karapan Sapi yang bertahan lestari hingga sekarang.
Potensi itulah yang kelak kemudian digali dan menjadi sumber mata acara siaran RRI, sebagai penggelora semangat membangun masyarakat Madura.

PROSES MEWUJUDKAN KEINGINAN 
Menelusuri proses terwujudnya keinginan mendirikan RRI stasiun lokal di Madura, erat kaitannya dengan kegigihan masyarakat Madura, khususnya masyarakat Kabupaten Sumenep. Melalui lembaga perwakilan DPRDS mulailah rangkaian proses mewujudkan keinginan tersebut.

Upaya wakil rakyat
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau hanya “map kumal” yang mungkin hanya dimiliki seseorang arsiparis yang wartawan (pada jamannya), menjadi saksi sejarah amat penting bagi perjuangan rakyat Kabupaten Sumenep mendirikan stasiun penyiaran RRI. R. Sujuti Atm, adalah pemilik “map kumal” yang isinya guntingan kecil potongan surat kabar Surabaya Post bertajuk “STUDIO RRI untuk Sumenep”. Surabaya Post bertanggal penerbitan 7 Juli 1954 itu mengungkap kejadian bersejarah, ketika sidang DPRDS Kabupaten Sumenep 1 Juli 1954 melahirkan sebuah “resolusi”, mendesak pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Penerangan dan Radio Pusat Studio RRI agar menyetujui berdirinya studio lokal RRI Madura di Sumenep.
Upaya awal wakil rakyat itu kemudian menyusul ditetapkannya “delegasi” menghadap Menteri Penerangan di Jakarta. Delegasi tersebut berdiri dari RH. Sastronegoro (almarhum) selaku ketua delegasi, R. Sujuti sebagai anggota, dan Singoneng Ayudo (almarhum) selaku wakil eksekutif. Mereka bertiga di Jakarta disambut Sekretaris Jenderal Penerangan serta Wakil dari Direktorat Jenderal RRI, Drs. Sumadi.
Angin segar serasa berhembus, ketika sambutan hangat itu menelurkan kesepakatan pemerintah pusat untuk melakukan serangkaian kegiatan peninjauan ke Sumenep, yang pada puncaknya berupa kesempatan Panitia Pendirian RRI beraudiensi dengan Menteri Penerangan RI, 22 Mei 1956 ketika kunjungan Menteri Penerangan Sudibjo ke Madura. Panitia Pendirian RRI yang diberi kesempatan beraudiensi dengan Menteri Penerangan terdiri dari :
1.       RP. Abdurrahman, Ketua DPRDS bertindak selaku Ketua.
2.       R. Sami’oedin, Wk. Sekr. DPRDS selaku anggota.
3.       Abd. Karim Dipasastro, Patih selaku anggota.
4.       Asmawi, Wk. Kepala Jawatan Penerangan, selaku anggota.
5.       RB. Abd Gaffar, anggota DPRDS selaku anggota.
6.       Moh. Rais, Ketua Organisasi Sinar Sumekar, anggota.
7.       RA. Sujingrat, perwakilan Jawatan Kebudayaan untuk Kabupaten Sumenep sebagai angota.
Audiensi berlangsung di kantor Karisidenan Madura Pamekasan, sebagai bentuk “meminta ketegasan” Menteri Penerangan terhadap perjuangan Delegasi DPRDS Kabupaten Sumenep untuk  mendirikan Studio lokal RRI di Sumenep. Menarik kita simak, karena dalam forum ini sempat dipertimbangkan lokasi lain untuk mendirikan studio lokal RRI di Madura.

Menentukan Lokasi
Tampaknya “babak akhir” perolehan kesepakatan berdirinya stasuin lokal RRI di Sumenep tercatat sebagai hasil perjuangan para anggota panitia pendirian RRI Sumenep. Ketika tercetus pemikiran, bahwa Pamekasan sebagai kota Karesidenan Madura layak untuk ditempati studio lokal RRI, maka kembali panitia mengemukakan alasan-alasan yang kuat, mengapa RRI lokal Madura sebaiknya ditempatkan di Sumenep. Atas pertimbangan yang diajukan Panitia tersebut, akhirnya audiensi singkat ini memperoleh ketetapan Menteri Penerangan, yang menyetujui ditempatkannya studio lokal RRI Madura di Sumenep. Selanjutnya, menyangkut pelaksanaan, dikuasakan kepada Direktur Jenderal RRI dan Kepala Jawatan Penerangan Jawa Timur.
Agaknya, pertemuan singkat Menteri Penerangan dengan Panitia pendirian RRI di Pamekasan itu semakin mendekati titik awal terwujudnya keinginan, lebih-lebih setelah Direktur Jenderal RRI, R. Maladi menyepakati penyediaan seperangkat peralatan studio, pemancar, dan pegawainya, sementara kebutuhan lainnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah untuk mengusahakannya.

PERSIAPAN MENDIRIKAN RRI SUMENEP
Setelah tercapai kesepakatan antara Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Penerangan RI dengan Panitia Pendirian RRI untuk penempatan studio lokal RRI Madura di Sumenep, maka Panitia mulai melakukan upaya menyiapkan segala perangkatnya, meliputi perangkat keras dan perangkat lunak penyiaran.
a. Pengadaan Gedung dan Studio
Sebagaimana terungkap di atas, telah  menjadi kesepakatan bahwa penyediaan sarana dan prasarana penyiaran RRI studio lokal Sumenep, Pemerintah Daerah Tingkat II Sumenep mempersiapkan Gedung Penyiaran dan Perkantoran, terletak di jalan Urip Sumoharjo. Unik dan menarik menelusuri kisah sejarah gedung dan studio penyiaran ini. Bangunan kokoh dan anggun yang hingga kini menjadi lokasi representatif penyiaran RRI Sumenep, bermula dibangun tahun 1864 sebagai Gedung Asisten Residen, yang ketika itu dijabat oleh seorang penguasa Kolonial Belanda bernama “ Peter “. Lama kelamaan orang tidak lagi menyebut dengan nama kantor Asisten Residen, tapi menyebuatkan dengan sebutan “ Kapetoran “, menyesuaikan dengan nama sang Asisten tadi. Menjelang Indonesia merdeka, gedung ini kembali menorehkan kesejahannya sebagai Sekretariat Komite Nasional Indonesia KNI, dan pada masa Agresi II Belanda tahun 1947, bangunan ini menjadi markas dan asrama Biro Perjuangan. Terakhir, di awal kemerdekaan gedung yang kokoh dan monumental tersebut menjadi saksi rekruitmen tenaga pendidik. Di sini bermukim pelajar putri Sekolah Guru Bawah, sehingga dikenal orang sebagai Asrama Putri SGB, hingga tahun l956, ketika sebagian gedung ditempati studio dan perkantoran RRI Sumenep.

b. Peralatan Studio, Pemancar dan Antene
Segalanya serba sederhana, ibarat bayi yang baru dilahirkan ibu pertiwi, peralatan studio, pemancar, dan antene rasanya hanya dapat meneriakkan suara yang amat terbatas untuk didengar. Selanjutnya yang mengesankan, berdirinya RRI Sumenep sebagai buah keinginan bersama Pemerintah dan masyarakatnya, tercermin dalam pengadaan antene pemancar dan peralatan studio. Bayangkan, peralatan studio yang tersedia adalah concsule bermerk Gates buatan l940 dan pemancar RCA berkekuatan 250 Watt, adalah bantuan RRI Studio Jatim ( sekarang : RRI Surabaya ) Peralatan studio dan pemancar ini telah menjalani tugas operasional perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sedangkan “ Antene Pemancar “ diperoleh atas bantuan dari Pimpinan PPLK ( Sekarang : PT. Garam ) Sutonegoro. Peralatan studio dan antene pemancar dimaksud, kesemuanya kini masih terawat baik, dalam kapasitasnya sebagai benda peninggalan bersejarah “ Pengaruh awal bahtera penyiaran RRI Sumenep “.

Perangkat Lunak

a. Organisasi RRI Sumenep
Harus diakui, bahwa Organisasi Studio RRI Sumenep layaknya studio RRI lainnya, ketika itu belum tersusun rapi sebagaimana organisasi Lembaga Pemerintahan yang telah mempunyai kejelasan fungsi, tugas dan kewenangan masing-masing karyawan. Kendati demikian pengendalian yang ketat dalam Ikatan Jaringan Kerja ( Network ) tetap diterapkan Pemerintah Pusat dalam hal ini Direktorat Jenderal RRI, Departemen Penerangan. Sehingga yang bisa kita temui sekarang dalam jalinan kerja sama organisasi sebuah studio RRI, adalah Penanggung Jadwab, dengan sebutan :
- Kepala Studio ( Kepstu ) :  adalah Penanggung Jawab keseluruhan jalannya roda organisasi penyiaran RRI
- Kepala Bagian Umum : adalan Penanggung Jawab segala kegiatan Ketata Usahaan.
- Kepala Bagian Siaran : adalah Penanggung Jawab  di bidang pengelolaan siaran dan berita.
- Kepala Bagian Teknik : adalah Penanggung Jadwab Operasional Peralatan teknik

b.   Pejabat Pelaksana
Di awal mengudaranya siaran RRI Sumenep, disebut oleh seorang nara sumber, bahwa jumlah karyawan waktu itu adalah 17 orang menekuni tugas – tugas penyiaran. Supeno, mantan Kepala Pekabaran RRI Surabaya, menjabat sebagai Kepala Studio, sedangkan Yoso Prawiro selaku Kepala Bagian Umum, Hariyanto Kepala Bagian Siaran, dan Kepala Bagian Teknik dijabat oleh Abd. Rajak. Membaca kisah awal berdirinya Lembaga Penyiaran RRI Sumenep, mungkin di antara kita bertanya, siapakah gerangan orang- orang pertama yang mengudarakan siaran RRI Sumenep. Tentang “ Pelaku Sejarah “ ini dapat kita simak dalam lanjutan tulisan ini.

RRI SUMENEP MENGUDARA
Hari, Tanggal dan Tahun Mengudara
Tahapan perjuangan rakyat Sumenep melalui lembaga perwakilan DPRDS waktu itu, dengan berorientasi pada kemanfaatan dan faktor pendukung berdirinya studio penyiaran RRI, tibalah saat “ Menuai Hasil”. Perjalanan panjang mencapai klimaks saat dikumandangkan pertama kali “ Inilah Radio Republik Indonesia Sumenep, dari Jalan Urip Sumoharjo ( dulu jalan Kalianget ). Awal sejarah mengudaranya siaran RRI Sumenep takkan pernah terlupakan, 5 Oktober l956, bertepatan dengan Peringatan Hari Bersenjata RI, melantunlah kata bermakna yang kini menjadi kisah monumental , dari seorang penyiar studio Hadi Sudibjo ( Almarhum ) dibantu Operator Studio M. Saleh Rais.
Masa awal operasional suatu lembaga penyiaran, adalah masa uji coba yang penuh dengan  tantangan bagi RRI Sumenep. Melalui kerja keras dan kesungguhan karyawan dalam melaksanakan tugas, akhinya saat diakui secara resmi RRI Sumenep sebagai perpanjangan jaringan penyiaran RRI Nasional, pada tanggal 5 Juli l957 Menteri Penerngan RI, Sudibjo meresmikan RRI Sumenep.

Sambutan dan paritispasi masyarakat
Sesuatu yang baru, tentu tidak mustahil  mengundang perhatian dan keingintahuan masyarakat, lebih-lebih yang baru itu pernah mereka bayangkan dan rasakan kemanfaatannya seperti berdirinya studio penyiaran satu-satunya di Madura yaitu RRI Sumenep.
Mengkaji pada keadaan diri, sarana dan prasarana penujnjang siaran amatlah dirasa kurang. Penyediaan materi siaran di dapur RRI ( Diskotik ) sangatlah minim, namun kondisi masyarakatpun kala itu tidak banyak menuntut, sehingga keberadaan yang berselimutkan keterbatasan itu masih mampu menarik simpati masyarakat pendengar. Mareka datang ke Studio untuk melihat bagaimana sang penyiar bercanda melalui mikrophon, serta siapa operator pengendali  suara penyiar. Kehadiran mereka ternyata tidak berhampa tangan, sebungkus roti bakar  dan kacang rebus  kadang- kadang menyertai kedatangan mereka.

PERKEMBANGAN DARI TAHUN KETAHUN

Periode I ( Sebelum Terbakar )
Pada mula pertama siaran, RRI Sumenep menggunakan seperangkat peralatan teknik berupa studio consule bermerk Gates buatan tahun l940 dan Pemancar RCA berkekuatan 250 watt. Itupun merupakan sisa Atau bekas peralatan teknik RRI Surabaya pada masa mempertahankan kemerdekaan. Pada masa pemakaian alat ini pancaran siaran RRI Sumenep dapat dinikmati oleh pendengarnya, melalui gelombang SW, 120 meter.
Untuk perkembangan daya pancar siaran berikutnya, RRI Sumenep mendapat bantuan dari Pemerintah Pusat lewat program Colombo Plan, tahun 1961, berupa renovasi peralatan Studio Consule bermerk “ Gates dan Pemancar 1 Kilowatt, type 1619 TCA. Sejak inilah RRI Sumenep memancarkan siarannya dengan jalangkauan yang lebih luas, melalui gelombang SW, 89,41 meter.
Seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan teknologi komunikasi radio, maka Pemerintah pusatpun berkeinginan meningkatkan kemajuan lembaga penyiaran RRI Sumenep yang dirasa telah banyak memberikan manfaat bagi masyarakat pendengar di daratan Madura dan kepulauannya. Tahun l976, RRI Sumenep dipercaya mengoperasikan peratalan studi Schlumberger Consule bantuan lunak Pemerintah Perancis, serta Pemancar Harris berkekuatan 10 Kilowatt dari Amerika. Peningkatan perangkat keras ini telah membawa perubahan besar daya jangkau penyiaran. Siaran yang semula hanya menggunakan pemancar SW, 89, 41 meter, kini ditemani pemancar baru pada jalur MW, gelombang 273 meter. Era baru bagi daya jangkau penyiarfan RRI Sumenep, kini tidak hanya dapat didengar oleh masyarakat Madura dan kepulauannya, tetapi dinikmati pula oleh masyarakat pesisir utara Jawa Timur. Daerah bekas Karesidenan Besuki ( Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, Jember, Banyidwangi dan sekitarnya, yang sebagian besar penduduknya adalah keturunan Madura.
Begitulah perkembangan perangkat keras penyiaran RRI Sumenep yang diikuti pula oleh penambahan perangkat lunak pengendalinya, sehingga teribtnya SK Menpen Nomor 101/KEP/MENPEN/l979 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Stasiun RRI Regional II. Rekrutmen terus dilakukan bertahap memenuhi kepentingan. Kalau dulu, pada awal penyiaran hanya terdapat l7 orang karyawan pengelola siaran, maka pada saat musibah itu datang melanda , dini hari 5 Maret l989, api melalap hampir seluruh  bangunan induk perkantoran dan studio, membawa suasana duka yang mendalam atas 133 karyawan RRI Sumenep kala itu.

PERISTIWA TERBAKARNYA RRI SUMENEP
Malam telah mulai larut, dentang waktu pukul 23.00 WIB telah lewat, terdengar sayup-sayup nada putar kaset mengalunkan syair dan tembang macopat klenengan. Tiba-Tiba dari atap studio besar terdengar letupan kecil yang ternyata menyemburkan percikan api. Mengetahui ada bara api yang seketika marak di atap studio besar itu, petugas yang bekerja malam itu tanggap. Jarum lonceng menunjuikkan 23,50 WIB, ditempuhlah upaya pengamanan pertama dengan menurunkan handel aliran listrik, sehingga padamlah seluruh nyala lampu dan lenyaplah seketika siaran kesenian daerah macopat klenengan. Petugas yang berjumlah 6 orang  serentak berupaya mengatasi kobaran api, diantaranya mencoba memanfaatkan alat pemadam kebakaran yang tersedia di Studio dan ada pula yang menghubungi petugas piket kepolisian dan petugas pemadam kebakaran untuk dimintai bantuannya. Sementara kobaran api semakin marak menyebar pada hampir seluruh bangunan studio besar. Bantuan dari pihak keamanan Polres Sumenep serta masyarakat sekitar RRI, berhasil menyelamatkan sebagian besar peralatan studio. Sedangkan mobil pemadam kebakaran dibantu mobil tangki PDAM yang sekitar pukul 01.00 WIB  baru berhasil memadamkan api sekitar pukul 03.00 WIB, namun seluruh bangunan studio dan perkantoran telah habis tinggal puing-puing saja.

Periode II ( Setelah terbakar )
Sekali di udara tetap di dara, adalah tekat yang dijunjung tinggi oleh seluruh angkasawan RRI Sumenep. Musibah kebakaran yang melanda seluruh gedung perkantoran dan studio dini hari Senin 6 Maret l989 tidak pernah memupuskan semangat yang telah tertanam dalam diri mereka. Selang sekitar 30 menit dari saat-saat padamnya api, tepatnya 03.30 WIB RRI Sumenep mengudara kembali kendati dengan peralatan sederhana dan penggunaan motor diesel sebagai pembangkitnya. Inilah awal babak sejarah perjalanan lembaga penyiaran RRI Sumenep, yang dalam penulisan sejarah ini disebut sebagai Periode II.
Hari-Hari pertama setelah musibah kebakaran, RRI Sumenep menyelenggarakan aktivitas dengan keterbatasannya. Bangunan koridor kanan kiri gedung RRI yang selamat dari amukan api, direnovasi untuk dimanfaatkan sebagai studio dan kantor sementara. Renovasi tersebut dilaksanakan atas bantuan dana Pemerintah Daerah I ditambah anggaran rutin RRI l989/l990. Sebagai hasilnya, studio penyiaran  dan perkantoran menempati bangunan di bagian timur, sedangkan pemancar serta kegiatan administrasi siaran menempati di bagian barat. Pada bangunan inilah RRI Sumenep mengalami kegiatan penyiaran dan administrasi perkantoran. Bagaikan membuka sebuah kantor baru, kegiatan administrasi ditata kembali, karena semua dokumen dan arsip musnah terbakar.
Benar kata orang, setiap musibah dan kemalangan pasti diiringi hikmah dan rahmat. Hal ini tampak pada perkembangan dan peningkatan pembangunan gedung dan sarana lainnya. Dalam kurun waktu 5 tahun  puing-puing gedung lama seakan menjelma menjadi sebuah bangunan yang lebih megah, kokoh dan indah.
Pembangunan itu dilaksanakan dengan dukungan APBN, sbb :
DIP l990 / l991           Pembangunan Gedung Studio Tahap I
DIP l991 / l992           Pembangunan Gedung Studio Tahap II
DIP l992 / l993           Pembangunan Gedung Studio Tahap III dan Fondasi Gedung  Perkantoran Lantai I
DIP l993 / l994           Pembangunan Gedung Kantor Lantai I
DIP l994 / l995           Pembangunan Gedung Kantor Lantai II
DIP l995 / l996           Peningkatan sarana jalan kantor dan Meubeler Perkantoran.
Sedangkan peningkatan sarana teknik dan studio pemancar sbb :
Tahun l992, RRI Sumenep memperoleh Peralatan Studio dan Pemancar, bantuan Lunak Pemerintah Austria berupa :
- 2 Unit Studio Consule, Merk Siemens
- 1 Unit Peralatan Editing Musik
- 1 Unit Peralatan News Room, MCR, dan UTS
- Seperangkat Transmitter seperangkat Transmitter Link
- Mobil Unit Siaran Luar ( OB Van ) Mercy Benz
Tahun l992, RRI Sumenep dilengkapi dengan suku cadang pemancar bantuan lunak Pemerintah Jepang, berupa :
- Pemancar 2 Kilowatt, bermerk NEC
- Mesin Pembangkit Listrik ( Ganset ) 100 KVA
Dengan peningkatan peralatan teknik penyiaran dan Gedung Studio serta Perkantoran yang representative, maka siaran RRI Sumenep dapat terdengar lebih mantap melalui pancaran gelombang MW 273 meter atau AM 1098 Khz, 94,6 Mhz (Pro 1) FM 93 Mhz (Pro 3), dan FM Stereo 101,3 Mhz (Pro 2).
Didukung oleh peningkatan Sumber Daya Manusia  lewat program pendidikan dan latihan Profesi, Siaran RRI Sumenep diharapkan dapat semakin memikat hati khalayak pendengarnya, bukan saja masyarakat Madura dan kepulauannya, tetapi juga masyarakat pendengar di pesisir utara Jawa Timur dan beberapa daerah lain di Luar Jawa.


Sumber : www.rrisumenep.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More