Akhir-akhir ini banyak orang sepertinya kurang mempedulikan
terhadap budaya-budaya Kangean. Pada hal apabila budaya tersebut
dilestarikan merupakan aset Kebudayaan Nasional. Kabudayaan Daerah merupakan
sumber Kebudayaan Nasional.
Hari ini Sabtu, 22 September 2012 Panitia Induk HUT ke-67 Proklamasi Kemerdekaan
Republik Indonesia Kecamatan Arjasa mencoba menampilkan parade seni budaya asli
Kangean yang sudah lama tidur nyenyak, agar bangkit kembali sehingga warisan
para leluhur tetap berkembang dan hidup dengan subur. Terlebih dari itu siapa
tahu ke depan ada generasi penerus yang melanjutkan dan tidak hanya terbatas
parade tetapi mungkin lebih jauh dari itu bisa menggali lebih dalam lagi bahkan
mungkin menemukan jati diri sehingga akan terlahir gagasan perwujudan Hari Jadi
Kangean.
Parade ini terselenggara atas ide
Sekcam Arjasa Moh. Hosen yang diramu oleh Ketua Umum M. Muhadi W dan
dimobilisasi oleh Nur Afni (bendahara Panitia Induk) yang akhirnya diformulakan
sebagaimana parade seni budaya yang saat-saat sebelumnya tidak pernah ada.
Parade ini pula dapat terlaksana
dengan baik berkat kerja sama panitia Induk dengan H. Busahnan
Direktur PT. Dewi Puteri Asean Surabaya (asal Desa Kalikatak Kec.
Arjasa). PT. Dewi Puteri Asean Surabaya bergerak dalam bidang kebatubaraan
dan telah ambil bagian sebagai penyupport utama pada parade ini. Supported lain
yakni Muspika Arjasa, segenap elemen masyarakat, termasuk CV. Rahman Group dan
Bank BRI.
"Dengan semangat juang 1945,
kita lestarikan budaya Kangean sebagai Aset Budaya Nasional" merupakan tema
dalam parade ini. Arak-arakan ini telah menampilkan beberapa budaya Kangean, di
antaranya :
- Pepenta’an
- Pangka'
- Panganten Sonnat
- Kamrat
- Panganten Ronce' lengkap dengan
Kokocoran yang diiringi Tabbuhan Raja
- Gendhang Dhumi'
- Hadrah
- Mamaca / Macapat
- Mamajir
- Guttha'an (Musik Lesung) dan
masih banyak lagi yang belum tersajikan pada saat ini.
1. Mementa :
|
Pada fase ini keluarga pemuda mendatangi keluarga si
gadis dengan membawa buah tangan dan tidak boleh dilupakan membawa nagasari
(jenis makanan yang terbuat dari tepung beras
berisi buah pisang dan dibungkus dengan daun pisang pula) sebagai
pralambang bahwa si pemuda sedang mencari gadis idamannya. Pada
kesempatan ini pihak pemuda tadi menyatakan bahwa anaknya mencintai anak
gadis calon besannya. Silaturrahmi ini dilakukan sampai beberapa kali, tetapi
kedatangan berikutnya tidak lagi membawa nagasari tetapi jajan-jajan lainnya
bersama gula kopi. Manakala setelah tiga kali atau lebih ada kunjungan
balasan dari pihak perempuan maka pertanda bahwa memintanya tadi diterima,
maka akan dilakukan fase selanjutnya. Dan apabila tidak ada kunjungan balasan
suatu pertanda bahwa si pemuda tadi tidak disetujui dan tidak lagi melanjutkan
persuntingan ini.
|
2. Nanare :
|
Keluarga pemuda datang
lagi ke rumah si gadis, kali ini bersama beberapa orang + 20 orang
dengan bawaan lengkap peralatan rias, dan benda-benda lain yang ini juga
merupakan pralambang, misalnya : pisang yang dibawa itu ada yang mentah
tandanya pihak laki-laki masih belum siap dan diserahkan pada pihak perempuan
kesepakatannya. Tetapi manakala pisang yang dibawa masak semua pertanda pihak
laki-laki sudah siap segalanya. maka pihak perempuan menentukan hari dan
tanggal perkawinan serta mengadakan kesepakatan segala sesuatu yang bakal
dilakukan oleh pihak laki-laki termasuk bantuan yang bakal disumbangkannya.
|
3.
Lamaran (apondhung) :
|
Seminggu atau beberapa hari sebelum hari perkawinan maka
dilakukan lamaran (apondhung) yang dilakukan oleh banyak orang dengan membawa
berbagai macam keperluan, contoh : Beberapa gudang ( sebuah peti yang dipikul dua
orang) dan di dalamnya berisi barang bawaan misalnya jajan, rengginang, jenang, dsb, di
samping bawaan makanan mereka membawa seekor sapi/kerbau atau kambing, kayu bakar,
beras, dlsb.
Ada kalanya beberapa hari setelah lamaran ini pihak perempuan membalas
lamaran tersebut dengan membawa macam-macam makanan hampir separuh dari
banyaknya bawaan pihak laki-laki tadi, kegiatan ini disebut Seket Betton.
(Kisah selanjutnya bisa diikuti pada paparan Panganten Ronce’)
|



1 comment
parade seni budaya perlu terus diadakan, sebab realitas dilapangan banyal kalngan muda yang tidak mengenal budayanya sendiri
Posting Komentar