Minggu, 02 September 2012

Lemeng Makanan Khas Kangean



Entah berasal dari bahasa mana LEMENG tersebut, sebab keberadaannya sudah lama sekali bahkan sejak jaman Belanda sampai sekarang tatap melekat dan tidak asing bagi masyarakat Kangean.

Mungkin pembaca penasaran dan ingin mengenal lebih dekat lagi tentang apa dan bagaimana lemeng, mari kita ikuti pemaparan dari seorang tokoh masyarakat sekaligus pengalaman dalam pembuatan lemeng, Bapak H. Moh. Syafi’ie bersama isterinya Hj. Sappiyah Kampung Utara Pasar Desa Kalikatak Kecamatan Arjasa Pulau Kangean Sumenep.
 
Lemeng adalah salah satu jenis makanan khas Kangean yang terbuat dari bahan beras ketan yang dicampur santan kani, rasanya enak, gurih, lemak, dan bergizi tinggi tentunya. Cara membuatnya terkenal unik,  di mana setelah beras ketan dicuci bersih dibcampur santan kelapa dimasukkan ke dalam pohon bambu yang sudah dipotong-potong dan dilapisi daun pisang di dalamnya. Kemudian di panggang di pengapian bara api. Tanda bahwa lemeng sudah masak apabila potongan pohon bambu tadi jika sudah tampak hangus atau gosong (jawa). Lebih mantap lagi manakala sajian  makanan ini dilengkapi dengan kamboya dan tape yang sama-sama terbuat dari beras ketan.







Lemeng ini dibuat oleh para petani ketika mereka usai menyelsaikan rangkaian pekerjaan bertani dan hendak pulang dari “apondhung” ke rumah masing-masing, sebagai buah tangan kepada keluarga, sanak famili dan para tetangga yang tidak ikut apondhung. Apondhung berasal dari bahasa Kangean yang berarti boyongan. Maksudnya tradisi petani Kangean manakala bercocok tanam maupun menuai hasil taninya mereka boyongan bersama anggota keluarga ke sawah dan tidak pulang ke rumahnya selama berhari-hari, bahkan pada zaman dahulu bisa mencapai 3 bulan. Karena dari lamanya pekerjaan yang harus diselesaikan maka mereka tidak pulang ke rumah masing-masing dan membentuk perkampungan sementara yang disebut GULMA, mereka mendirikan “Barong” atau rumah sederhana tempat mereka berteduh, beristirahat, bermalam, dan menaruh hasil taninya. Di sana mereka melakukan “aolod” yakni mengemas padi dalam bentuk ikatan-ikatan yang diistilahkan “aenteng”. (padi kuna yang diani bersama batang pohon padinya sebelum membajirnya padi bibit unggul C4, PB5, dsb.)

Padi yang dipanen kadang-kadang agak jauh jaraknya dari perkampungan tadi, maka mereka harus mengangkut pada-padi tersebut ke gulma dengan menggunakan alat transportasi biasanya kerbau yang dinamai “maeret”.

Kalau sudah semuanya rampung maka padi yang sudah dientengi tadi diangkut ke rumah masing-masing yang jauhnya antara 10 km s.d. 15 km bahkan lebih dengan menggunakan kuda sebagai alat transportasi. Cara bertani seperti ini berlangsung turun temurun sampai sekarang.

Syukurlah sekarang jalan mulai diaspal walau hanya seumur jagung kemanfaatannya, mengapa demikian karena ruas jalan yang diaspal ketika ditinggal untuk mengaspal ruas jalan berikutnya sudah rusak lagi karena jarak pengaspalan berikutnya agak lama. Walau demikian sudah membantu petani sehingga tidak semua menunggang kuda berganti dengan sepeda motor. 

1 comment

Anonim
12 November 2013 pukul 02.47

bahasanya keren

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More