Entah berasal dari bahasa mana
LEMENG tersebut, sebab keberadaannya sudah lama sekali bahkan sejak jaman
Belanda sampai sekarang tatap melekat dan tidak asing bagi masyarakat Kangean.
Mungkin pembaca penasaran dan
ingin mengenal lebih dekat lagi tentang apa dan bagaimana lemeng, mari kita
ikuti pemaparan dari seorang tokoh masyarakat sekaligus pengalaman dalam
pembuatan lemeng, Bapak H. Moh. Syafi’ie bersama isterinya Hj. Sappiyah Kampung
Utara Pasar Desa Kalikatak Kecamatan Arjasa Pulau Kangean Sumenep.
Lemeng adalah salah satu jenis
makanan khas Kangean yang terbuat dari bahan beras ketan yang dicampur santan
kani, rasanya enak, gurih, lemak, dan bergizi tinggi tentunya. Cara membuatnya
terkenal unik, di mana setelah beras
ketan dicuci bersih dibcampur santan kelapa dimasukkan ke dalam pohon bambu
yang sudah dipotong-potong dan dilapisi daun pisang di dalamnya. Kemudian di
panggang di pengapian bara api. Tanda bahwa lemeng sudah masak apabila potongan
pohon bambu tadi jika sudah tampak hangus atau gosong (jawa). Lebih mantap lagi
manakala sajian makanan ini dilengkapi
dengan kamboya dan tape yang sama-sama terbuat dari beras ketan.
Lemeng ini dibuat oleh para
petani ketika mereka usai menyelsaikan rangkaian pekerjaan bertani dan hendak
pulang dari “apondhung” ke rumah masing-masing, sebagai buah tangan kepada
keluarga, sanak famili dan para tetangga yang tidak ikut apondhung. Apondhung
berasal dari bahasa Kangean yang berarti boyongan. Maksudnya tradisi petani
Kangean manakala bercocok tanam maupun menuai hasil taninya mereka boyongan
bersama anggota keluarga ke sawah dan tidak pulang ke rumahnya selama
berhari-hari, bahkan pada zaman dahulu bisa mencapai 3 bulan. Karena dari
lamanya pekerjaan yang harus diselesaikan maka mereka tidak pulang ke rumah
masing-masing dan membentuk perkampungan sementara yang disebut GULMA, mereka
mendirikan “Barong” atau rumah sederhana tempat mereka berteduh, beristirahat,
bermalam, dan menaruh hasil taninya. Di sana mereka melakukan “aolod” yakni mengemas
padi dalam bentuk ikatan-ikatan yang diistilahkan “aenteng”. (padi kuna yang
diani bersama batang pohon padinya sebelum membajirnya padi bibit unggul C4,
PB5, dsb.)
Padi yang dipanen kadang-kadang
agak jauh jaraknya dari perkampungan tadi, maka mereka harus mengangkut
pada-padi tersebut ke gulma dengan menggunakan alat transportasi biasanya
kerbau yang dinamai “maeret”.
Kalau sudah semuanya rampung maka
padi yang sudah dientengi tadi diangkut ke rumah masing-masing yang jauhnya
antara 10 km s.d. 15 km bahkan lebih dengan menggunakan kuda sebagai alat
transportasi. Cara bertani seperti ini berlangsung turun temurun sampai
sekarang.
Syukurlah sekarang jalan mulai
diaspal walau hanya seumur jagung kemanfaatannya, mengapa demikian karena ruas
jalan yang diaspal ketika ditinggal untuk mengaspal ruas jalan berikutnya sudah
rusak lagi karena jarak pengaspalan berikutnya agak lama. Walau demikian sudah
membantu petani sehingga tidak semua menunggang kuda berganti dengan sepeda motor.










1 comment
bahasanya keren
Posting Komentar