Tradisi ater-ater saling mengantarkan makanan kepada tetangga dan famili yang selama ini menjadi tradisi dan budaya dikalangan masyarakat Sumenep, hendaknya semakin terus dilestarikan dan menjadi kegiatan rutinitas, khususnya setiap momentum hari-hari besar keagamaan, seperti ketika menjelang puasa Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Hal tersebut diungkapkan salah seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Paragaan, Achmad Salim. Menurut pria kalem yang juga anggota DPRD Sumenep ini, tradisi ater-ater sudah menjadi tradisi turun temurun yang pada dasarnya memiliki tujuan untuk saling membantu dan menjalin silaturrahmi antar tetanggga dan keluarga.
“Sebab, dalam Islam juga dianjurkan untuk saling bersilaturrahmi kepda sesama, apalagi dengan membawa makan yang menjadi simbul tali asih dan berbagai makanan terbaik yang dimasak saat itu,”ujarnya.
Bahkan, biasanya setelah mendapat makanan dari tetangga dan famili, mereka juga membalas ater-ater. Inilah keunikan budaya ater-ater yang memang tetap penting untuk dilestarikan, agar kesenjangan sosial tidak terjadi, diera yang semakin banyak masuk budaya luar ini.
Sementara itu momentum ater-ater biasanya banyak dilakukan pada bulan Safar, Maulid, Rajab, Rebba, Sora dan berbagai hari-hari besar agama Islam seperti Ramadhan, Syawal dan sebagainya. Bahkan, ada pula yang rutin setiap minggu pada malam Jum’at. Hanya saja biasanya banyak dilakukan kepada guru ngaji dan sebagainya.
Senin, 20 Agustus 2012
TETAP LESTARIKAN BUDAYA “ATER-ATER” SEBAGAI TRADISI
Sumber : www.sumenep.go.id
Posted in: Seni Budaya



Posting Komentar